Berita Internasional

Jelang Perundingan Damai, Iran Waspada 'Operasi Tipu Daya' Anak Buah Trump

Jelang perundingan damai, Iran waspada atas 'operasi tipu daya' yang mungkin saja dilakukan AS. Rekam jejak anak buah Donald Trump dipertanyakan.

Tribunnews.com/Instagram Abbas Araghchi/@araghchi
PERUNDINGAN NUKLIR IRAN - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi saat upacara peringatan untuk mengenang Saba Babaei (Kuniko Yamamura), ibu dari martir Mohammad Babaei di Taman Kota Teheran, Rabu, 12 Juli 2022. AS dan Iran akan melanjutkan putaran kedua perundingan nuklir pada Sabtu, 19 April 2025 di Roma, Italia. 

Ringkasan Berita:
  • Perundingan dijadwalkan di Islamabad, diprediksi alot.
  • Iran waspada “operasi tipu daya” karena pengalaman buruk diplomasi AS.
  • Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf: Iran siap damai tapi tidak percaya AS.
  • Isu krusial: kendali Selat Hormuz. Donald Trump menolak Iran tarik biaya di selat.
  • Iran tuntut kompensasi perang sebelum kesepakatan.

Tribunlampung.co.id, Pakistan - Jelang perundingan damai, Iran waspada atas 'operasi tipu daya' yang mungkin saja dilakukan Amerika Serikat (AS). Hal tersebut lantaran rekam jejak anak buah Donald Trump.

Rencananya, perundingan damai tersebut dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Sejumlah pihak pun memrediksi jika perundingan damai itu bakal berjalan alot.

Dikutip dari Tribunnews.com, meski kedua belah pihak telah mengirimkan delegasi tingkat tinggi, kubu masing-masing menyimpan kecurigaan dan ketidakpercayaan. Khususnya Iran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran datang ke meja perundingan dengan niat baik dan kesiapan untuk mencapai kesepakatan.

Baca juga: 650 Rudal Balistik Iran Bombardir Israel, Puluhan Tewas, 7.000 Orang Terluka

Namun, ia memberikan catatan tebal mengenai rekam jejak diplomasi Amerika yang dianggapnya sering kali berakhir dengan pengkhianatan.

"Pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu disertai kegagalan dan pelanggaran komitmen. Dua kali dalam kurang dari setahun, di tengah proses negosiasi, mereka justru menyerang kami," ujar Ghalibaf setibanya di Islamabad, seperti dikutip NBC News.

"Kami punya niat baik, tapi kami sama sekali tidak punya kepercayaan," katanya lagii.

Ia memperingatkan, jika Washington berniat menjadikan negosiasi ini hanya sebagai "operasi tipu daya", Iran siap menempuh jalur lain untuk mempertahankan hak nasionalnya.

Satu di antara titik krusial yang diyakini bakal menyandera perundingan ini adalah perbedaan pandangan yang tajam mengenai Selat Hormuz.

Jalur perdagangan minyak paling vital di dunia ini menjadi ajang "adu urat saraf" antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Dalam sebuah pesan yang menandai 40 hari wafatnya martir Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke fase baru.

Iran menuntut ganti rugi penuh atas kerusakan perang, biaya pemulihan korban luka, hingga uang darah (diyat) bagi para martir.

"Kami tidak mencari perang, tapi kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami. Seluruh Front Perlawanan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan," tegas Mojtaba.

Di sisi lain, Donald Trump menunjukkan sikap keras kepala yang serupa.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved