Berita Terkini Nasional

Padre Marco Solo: Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV Melawan Perang

Paus Leo XIV dan Gereja Katolik mempersembahkan doa khusus memohon perdamaian pada Sabtu malam, 11 April 2026 di Basilika Santo Petrus Vatikan.

Tribunlampung.co.id/Istimewa
SERUAN PERDAMAIAN - Romo Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Takhta Suci yang berasal dari Indonesia, mengajak kita semua menyatu dalam doa dan mengikuti seruan Paus Leo di dalam refleksinya ini. 

Dalam doa keterbatasan kemampuan manusia kita disatukan dengan kemungkinan tak terbatas dari Tuhan. Pikiran, kata-kata, dan perbuatan kemudian memutus siklus kejahatan dan ditempatkan untuk melayani kerajaan Allah.

Sebuah kerajaan di mana tidak ada pedang, tidak ada drone, tidak ada pembalasan, tidak ada penyepelehan kejahatan, tidak ada keuntungan yang tidak adil, tetapi hanya martabat, pengertian, dan pengampunan.

Di sinilah kita menemukan benteng melawan ilusi kemahakuasaan yang mengelilingi kita dan menjadi semakin tidak terduga dan agresif. Keseimbangan dalam keluarga manusia telah sangat terganggu. Bahkan nama kudus Tuhan, Tuhan kehidupan diseret ke dalam wacana kematian.

Dunia saudara dan saudari dengan satu Bapa surgawi lenyap seperti dalam mimpi buruk. memberi jalan kepada realitas yang dipenuhi musuh. Kita dihadapkan dengan ancaman ahli-ahli undangan untuk mendengarkan dan bersatu.  

Saudara dan saudari, mereka yang berdoa menyadari keterbatasan mereka sendiri, mereka tidak membunuh atau mengancam dengan kematian. Sebaliknya, kematian memperbudak mereka yang telah membelakangi Allah yang hidup menjadikan diri mereka sendiri dan kekuatan mereka menjadi berhala yang bisu, buta, dan tuli.

Bandingkan kitab Mazmur pasal 115 ayat 4 sampai 8. Yang kepadanya mereka mengorbankan setiap nilai, menuntut agar seluruh dunia bertekuk lutut. Cukup sudah penyembahan diri dan uang, cukup sudah pameran kekuasaan. Cukup sudah perang. Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan. 

Dengan kesederhanaan Injil, Santo Paus Yohanes ke-23 pernah menulis demikian, manfaat perdamaian akan dirasakan di mana-mana oleh individu, oleh keluarga, oleh bangsa, oleh seluruh umat manusia dan menggemahkan kata-kata tajam Paus Pius ke-12. Ia Paus Yohanes ke-23 menambahkan, "Tidak ada yang hilang oleh perdamaian, tetapi segala sesuatu dapat hilang oleh perang."

Surat Ensiklik Pacem Interis dari Paus Yohanes 23 nomor 116.  Oleh karena itu, marilah kita satukan kekuatan moral dan spiritual jutaan dan miliaran pria dan wanita, muda dan tua yang hari ini memilih untuk percaya pada perdamaian, menyembuhkan luka, dan memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan oleh kegilaan perang.

Saya menerima banyak sekali surat dari anak-anak di daerah konflik. Dalam membacanya kita melihat melalui lensa kepolosan semua kengerian dan ketidak manusiaan dari tindakan yang dibanggakan oleh sebagian orang dewasa. Marilah kita mendengarkan suara anak-anak. 

Saudara-saudari terkasih, tentu ada tanggung jawab yang mengikat yang dibebankan kepada para pemimpin bangsa. Kepada mereka kita berseru, "Hentikan perang, sudah waktunya untuk perdamaian

Duduklah di meja dialog dan mediasi, bukan di meja tempat perencanaan persenjataan ulang dan tindakan mematikan diputuskan. Namun, ada tanggung jawab yang tidak kalah pentingnya yang dibebankan kepada kita semua pria dan wanita dari seluruh dunia.

Kita adalah orang-orang yang menolak perang bukan hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan. Doa mengajak kita untuk meninggalkan segala kekerasan yang masih tersisa di hati dan pikiran kita.

Marilah kita berpaling kepada kerajaan perdamaian yang dibangun hari demi hari di rumah kita, sekolah, lingkungan, dan komunitas sipil serta keagamaan kita. Sebuah kerajaan yang melawan polemik dan keputusasaan melalui persahabatan dan budaya perjumpaan.

Marilah kita percaya sekali lagi pada cinta, moderasi, dan politik yang baik. Kita harus membentuk diri kita sendiri dan terlibat secara pribadi masing-masing mengikuti panggilan kita sendiri. Setiap orang memiliki tempat dalam mosaik perdamaian.

Doa Rosario seperti bentuk-bentuk doa klasik lainnya telah menyatukan kita malam ini dalam ritmenya yang mantap yang dibangun di atas pengulangan perdamaian. berkembang dengan cara yang sama. Kata demi kata, perbuatan demi perbuatan. 

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved