Berita Terkini Nasional

Padre Marco Solo: Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV Melawan Perang

Paus Leo XIV dan Gereja Katolik mempersembahkan doa khusus memohon perdamaian pada Sabtu malam, 11 April 2026 di Basilika Santo Petrus Vatikan.

Tribunlampung.co.id/Istimewa
SERUAN PERDAMAIAN - Romo Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Takhta Suci yang berasal dari Indonesia, mengajak kita semua menyatu dalam doa dan mengikuti seruan Paus Leo di dalam refleksinya ini. 

Seperti batu yang dikikis setetes demi setetes atau kain yang ditenun jahitan demi jahitan. Ini adalah ritme kehidupan yang lambat. Tanda kesabaran Tuhan. Kita tidak boleh membiarkan diri kita kewalahan oleh kecepatan dunia yang tidak tahu apa yang dikejarnya. 

Sebaliknya kita harus kembali melayani ritme kehidupan, harmoni ciptaan, dan menyembuhkan luka-lukanya. Seperti yang diajarkan Paus Fransiskus kepada kita, ada juga kebutuhan akan para pembawa damai, pria dan wanita yang siap bekerja dengan berani dan kreatif untuk memulai proses penyembuhan dan perjumpaan yang diperbaharui.

Surat Ensiklik Fratelituti dari Paus Fransiskus nomor 225. Memang ada sebuah arsitektur perdamaian yang mana berbagai lembaga masyarakat berkontribusi masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya sendiri. Tetapi ada juga sebuah seni perdamaian yang melibatkan kita. Dikutip juga dari ensiklik Fratelituti Paus Fransiskus nomor 231.

Saudara-saudari terkasih, marilah kita pulang ke rumah setelah berkomitmen untuk berdoa tanpa henti dan tanpa lelah. Sebuah komitmen untuk pertobatan hati yang mendalam. Gereja adalah umat yang besar yang melayani rekonsiliasi dan perdamaian.

Gereja maju tanpa ragu-ragu. Bahkan ketika menolak logika perang dapat menyebabkan kesalahpahaman dan penghinaan. Gereja mewartakan Injil perdamaian dan menanamkan ketaatan kepada Tuhan daripada otoritas manusia manapun.

Terutama ketika martabat inheren manusia lain terancam oleh pelanggaran hukum internasional yang terus-menerus di seluruh dunia. Diharapkan setiap komunitas menjadi rumah perdamaian, tempat orang belajar bagaimana meredakan permusuhan melalui dialog, tempat keadilan dipraktikkan dan pengampunan dihargai.

Sekarang lebih dari sebelumnya kita harus menunjukkan bahwa perdamaian bukanlah utopia. Dikutip dari pesan Paus Leo ke-14 sendiri untuk hari perdamaian dunia ke-69, 1 Januari 2026.

Saudara-saudari dan setiap bahasa, bangsa dan negara, kita adalah satu keluarga yang menangis, berharap, dan bangkit kembali. Tidak ada lagi perang. Perjalanan tanpa kembali. Tidak ada lagi perang. Lingkaran setan kesedihan dan kekerasan. Kutipan dari Santo Paus Yohanes Paulus. Doa untuk perdamaian 2 Februari 1991.

Sahabat-sahabat terkasih, damai sejahtera bagi kalian semua. Ini adalah damai sejahtera Kristus yang bangkit, buah dari pengorbanan kasih-Nya di kayu salib. Karena alasan inilah kita memanjatkan doa kepadanya berikut ini. 

Tuhan Yesus, Engkau menaklukkan maut tanpa senjata atau kekerasan. Engkau menghancurkan kekuatan-Nya dengan kekuatan damai sejahtera. Berikanlah kepada kami damai sejahteraMu seperti yang Engkau berikan kepada perempuan-perempuan yang penuh keraguan pada pagi hari Paskah.

Seperti yang Engkau berikan kepada para murid yang bersembunyi dalam ketakutan. 
Utuslah Roh-Mu nafas yang memberi hidup dan mendamaikan, yang mengubah musuh dan lawan menjadi saudara dan saudari. Ilhamilah kami untuk percaya kepada Maria, ibumu yang berdiri di kaki salibmu dengan hati yang hancur, teguh dalam iman bahwa Engkau akan bangkit kembali. 

Semoga kegilaan perang berakhir dan bumi dijaga dan dibudidayakan oleh mereka yang masih tahu bagaimana menumbuhkan, melindungi dan mencintai kehidupan. Dengarkanlah kami ya Tuhan kehidupan. Salam damai sejahtera bagimu semua, bagi bangsa dan negara, bagi dunia kita. Amen. (*/Tribunlampung.co.id)

Baca Selanjutnya Awal Mula Indonesia Jadi Bahasa Resmi di Vatikan, Usulan PWKI

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved