TribunLampung/

Petani Jagung Tak Bisa Penuhi Standar Bulog, Ini Penyebabnya

Bulog sebenarnya juga menyerap jagung dari petani. Hanya, petani kesulitan memenuhi standar yang ditetapkan, yakni kadar air 14 persen.

Petani Jagung Tak Bisa Penuhi Standar Bulog, Ini Penyebabnya
tribunlampung/dedi
Petani jagung di Lampung Selatan. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Dedi Sutomo

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA – Terus merosotnya harga jagung menjadi perhatian Dinas Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Hortikultura Lampung Selatan. Kabid Tanaman Pangan Mugiono mengaku telah menyampaikan hal ini kepada Kementerian Pertanian.

“Ini sudah kita sampaikan ke pusat. Kita berharap ada langkah dari pemerintah pusat agar petani tidak merugi,” terang Mugiono, Jumat, 9 Februari 2018.

Menurut Mugiono, Bulog sebenarnya juga menyerap jagung dari petani. Hanya, petani kesulitan memenuhi standar yang ditetapkan, yakni kadar air 14 persen.

Baca: Ini Tuntutan Petani Jagung kepada Pemerintah

Baca: Ini Daerah di Lampung yang Akan Didatangi Ratu Belanda

“Apalagi dengan kondisi musim penghujan saat ini susah untuk mendapatkan kekeringan dengan kadar air 14 persen,” ujarnya.

Ia pun mengakui dengan harga jagung di tingkat petani yang hanya sekitar Rp 1.800 per kilogram, sangat sulit bagi petani untuk bisa menikmati hasil. Apalagi saat akan tanam lalu, harga bibit jagung melonjak tinggi. Membuat biaya yang harus dikeluarkan petani lebih besar dari biasanya.

“Kasihan petani. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar akibat harga bibit yang naik hingga Rp 500 ribu per kantong. Belum lagi pupuk, pestisida, dan lainnya. Dengan harga jagung saat ini, petani hanya dapat uang lelah,” tandasnya. (*)

Penulis: Dedi Sutomo
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help