Macet Parah, Gunungsugih-Terbanggi Besar yang Hanya 10 Km Ditempuh 4 Jam

Kemacetan panjang terpantau di Jalur Lintas Tengah Bandarjaya-Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu (23/5).

Macet Parah, Gunungsugih-Terbanggi Besar yang Hanya 10 Km Ditempuh 4 Jam
Macet parah dari Gunungsugih sampai Terbanggi Besar 
Laporan Reporter Tribun Lampung Syamsir Alam
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TERBANGGI BESAR - Kemacetan panjang terpantau di Jalur Lintas Tengah (Jalinteng) Bandarjaya-Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu (23/5).
Adanya penyempitan jalan di ruas Yukumjaya diduga sebagai penyebabnya.
Kemacetan bahkan terjadi hingga sejauh tujuh kilometer atau sejak memasuki ruas jalan Gunungsugih hingga Terbanggi Besar.
Menurut sejumlah warga, kemacetan sudah terjadi sejak pukul 15.00 WIB, dan mulai berkurang sejak pukul 19.00 WIB.
Kendaraan roda empat atau lebih seperti truk dan kontainer mendominasi di ruas tersebut.
Sejumlah sopir menyebutkan, perjalanan dari Bandarjaya menuju Terbanggi Besar itu kalau normal hanya 15 sampai 30 menit. Itu karena jaraknya hanya sekitar 10 km.
 
Namun karena kondisi macet, mereka mengaku harus melalui jalan itu hingga empat jam lamanya.
"Saya dari Bandar Lampung mau ke Bukit Kemuning.
Macet parah dari Gunungsugih sampai Terbanggi Besar. Kamacetan terjadi karena pengerasan jalan di Yukumjaya hingga kini belum rampung.
Macet parah dari Gunungsugih sampai Terbanggi Besar. Kamacetan terjadi karena pengerasan jalan di Yukumjaya hingga kini belum rampung. ()
Macet sudah dari depan Rumah Sakit Demang (Gunungsugih). Sampai sini saja (Yukumjaya) udah empat jam, pegel kaki saya," keluh Subhan, salah seorang sopir mobil.
Sementara Yanto, sopir kontainer mengeluhkan tidak adanya anggota kepolisian yang memberitahu perihal adanya kemacetan.
Ia menjelaskan, tidak ada petugas juga yang mengatur di jalan.
"Tidak ada ini (polisi mengatur lalu lintas). Dari Gunungsugih juga tidak ada, ya kita terpaksa macet-macetan begini.
Tidak ada yang memberitahu jalan alternatif mana yang harus dilalui," kata Yanto.
Marno, sopir lainnya menyebutkan, tidak ada rambu atau peringatan pengalihan jalan,
jadi ia dan sopir lainnya tidak menggunakan jalur alternatif dan mengikuti jalur utama Jalinteng Bandarjaya-Terbanggi Besar.
 
Banyak Bekas Galian
Sejumlah warga di Yukumjaya menjelaskan, pengerjaan bahu jalan di pengerjaan pengerasan jalan (rigit) di kilometer 62-64, belum maksimal.
Hal itu terlihat dari banyaknya bekas galian yang tertimbun di pinggir jalan.
Kondisi itu dianggap warga memperparah kemacetan, karena bekas galian yang terkena hujan membuat jalan menjadi licin.
Tak hanya itu, pekerja juga tampak tidak bekerja sehari penuh.
"Ia itu bekas galiannya. Buat gorong-gorong itu saja banyak yang masih di pinggir jalan.
Apalagi setelah bahu jalan dikerjakan, otomatis jalan semakin sempit, karena satu jalan dipakai untuk dua lajur," kata Ahmad, warga Yukumjaya, Rabu (23/5).
Tak hanya itu, pengerjaan rigit yang berada tepat di depan Rumah Sakit Yukum Medical Center (YMC), membuat situasi semakin tidak teratur,
dengan banyaknya kendaraan yang keluar masuk ke rumah sakit.
"Harusnya ada jalur yang diprioritaskan buat kendaraan kayak ambulans masuk dan keluar (rumah sakit).
Ini kan kalau mereka mau masuk, karena jalan ini terpotong (pengerasan jalan) jadi susah. Ujung-ujungnya membuat kemacetan juga," keluh Susilowati, salah seorang warga.
 
Jadwal Bus Terganggu
Adanya pengerjaan pengerasan jalan berdampak juga pada jadwal keberangakat bus luar kota, khususnya dari arah Kotabumi menuju Bandar Lampung.
Hal itu karena sopir menghindari keterlambatan keberangkatan.
"Ya bus yang berangkat dari Kotabumi kan biasanya pukul 12.00 WIB baru berangkat.
Ini karena ada pengerjaan jalan dan efeknya sering macet, jadi dimajukan dua jam keberangkatan dari sana (Kotabumi)," ujar Widi, salah seorang agen bus luar kota di Yukumjaya, Rabu (23/5).
Ia mengatakan, percepatan keberangkatan bus dilakukan sejak satu bulan terakhir, saat dilakukan pengerjaan rigit jalan dari Terbanggi Besar hingga Yukumjaya.(sam)
Penulis: syamsiralam
Editor: muhammadazhim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help