Jadwal Pemadaman Listrik Bergilir di Lampung Ditanyakan Warga, PLN Jelaskan PLTU Sebalang Terbakar

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengenai jadwal pemadaman listrik bergilir, termasuk kapan byarpet akan berakhir

Penulis: Eka Ahmad Sholichin | Editor: Ridwan Hardiansyah
Istimewa
PLTU Sebalang terbakar pada Kamis (23/8/2018) menyebabkan pemadaman listrik bergilir di Lampung. 
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Warga Bandar Lampung resah dengan kondisi listrik yang kerap padam alias byarpet belakangan ini.
Apalagi, jadwal pemadaman listrik bergilir tidak diumumkan.
Bahkan, pengumuman kebijakan pemadaman listrik bergilir akan berakhir pun tak ditemukan.
Padamnya listrik bisa memakan waktu 4 jam-5 jam.
Dalam sehari, pemadaman listrik tak hanya sekali terjadi di suatu wilayah.
"Sehari bisa dua kali mati. Waktunya sampai empat jam," keluh Farizal, warga Kelurahan Jagabaya I, Kecamatan Way Halim, Senin (27/8/2018).
Farizal kecewa lantaran tidak ada pemberitahuan dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengenai jadwal pemadaman listrik bergilir, termasuk kapan byarpet akan berakhir.
"Kalau memang akan ada pemadaman, mohon informasikan (jadwal pemadaman listrik bergilir) supaya bisa siap-siap, misalnya nyetok air," katanya.
Lita, warga lainnya, juga merasakan pemadaman listrik hingga dua kali dalam sehari di tempat tinggalnya.
"Biasanya, padam yang pertama sampai 3 jam lamanya. Kemudian, padam yang kedua, sekitar 30 menit," ujar warga Kecamatan Sukabumi itu.
Menurut Lita, lingkungan tempat tinggalnya temasuk sering byarpet.
Dampaknya, ia sampai harus menumpang mandi ke rumah bibinya, di Kecamatan Sukarame saat hendak berangkat kerja.
"Kalau lagi ada gangguan apa gitu, terus pemadaman listrik bergilir, daerah rumah saya ini sepertinya kena jatah paling banyak," keluhnya.
Yandri, warga Kecamatan Rajabasa, kecewa dengan pemadaman listrik bergilir yang sering terjadi.
Sementara, tarif listrik naik.
"Tarif listrik naik tiga kali lipat, tapi sebagai pelanggan tetap merasakan listrik mati," ujar Yandri.
"Rata-rata sehari sekali, dengan durasi beda-beda," sambungnya.
Kebakaran di PLTU Sebalang
Pemadaman listrik yang kerap terjadi belakangan ini merupakan dampak dari terbakarnya peralatan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sebalang, Tarahan, Lampung Selatan, Kamis (23/8/2018) pekan lalu.
Kebakaran itu menyebabkan beberapa komponen pembangkit mengalami kerusakan.
Hingga saat ini, PLN masih melakukan pemulihan terhadap kerusakan. PLTU Sebalang pun nonaktif untuk sementara waktu.
"Kekurangan pasokan listrik yang seharusnya didapat dari PLTU Sebalang, akan di-cover dari pembangkit lain," jelas Deputi Manajer Hukum dan Hubungan Masyarakat PT PLN (Persero) Distribusi Lampung Hendri AH melalui siaran pers, Minggu (26/8/2018).
Hendri menjelaskan, kebakaran di PLTU Sebalang pekan lalu menyebabkan defisit daya mencapai 165 megawatt pada Waktu Beban Puncak (WBP).
"Pengurangan beban merupakan langkah antisipasi agar kerusakan tidak memberi dampak lebih besar lagi," kata Hendri.
"Untuk pemenuhan kekurangan daya, kami sudah melakukan kontrak pembelian IPP (Independent Power Producer) dengan PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) Sutami untuk daya sebesar 30 MW serta PLTG New Tarahan sebesar 24 MW," sambungnya.
Adapun terkait pemulihan PLTU Sebalang, Hendri berjanji, PLN akan melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pemulihan.
"PLN saat ini melakukan mobilisasi SDM (sumber daya manusia) secara maksimal dan menggunakan peralatan dari pembangkit lain sebagai upaya percepatan pemulihan terhadap instrumen pembangkit," tandasnya.
Dampak berikutnya akibat PLTU Sebalang terbakar, papar dia, terjadi pengurangan beban hingga pemadaman listrik bergilir di beberapa wilayah di Lampung.
Sayangnya, PLN tidak menyampaikan jadwal pemadaman listrik bergilir yang dilakukan. (eka ahmad solichin)
---> Jangan lupa subscribe Channel YouTube Tribun Lampung News Video
Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved