Berita Video Tribun Lampung

Duh, Peninggalan Keratuan Balaw Kini Menjelma Jadi Kebun Singkong

Kota Tapis Berseri ternyata menyimpan catatan sejarah dan harta karun tidak ternilai harganya. Salah satunya bisa ditemui di Tiyuh Kedamaian

Tayang:
Editor: soni

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Kota Tapis Berseri ternyata menyimpan catatan sejarah dan harta karun tidak ternilai harganya. Salah satunya bisa ditemui di Tiyuh Kedamaian, tepatnya wilayah perbukitan di Jalan Ratu Lengkara atau sekitar 200 meter dari Kantor Kecamatan Kedamaian.

Kondisi situs Keratuan Balaw yang konon merupakan sebuah kerajaan di Provinsi Lampung amat memprihatinkan. Selain perawatan yang terkesan seadanya, sekeliling areal kini telah disulap menjadi lahan pertanian.

Berada sedikit menjauh dari rumah warga, masyarakat yang penasaran dengan lokasi akan disambut dengan jalan yang tidak bersahabat. Selain itu hamparan hijau dari kebun jagung dan singkong berada di kanan-kiri jalan setapak berukuran 2 meter. Lokasi bercocok tanam yang ada di areal Keratuan Balaw diklaim sudah dilakukan sejak lama.

Suroto, warga setempat, mengaku telah menggarap lahan kosong yang ia tumpangi lebih dari lima tahun. Bahkan di beberapa titik, penggarapan lahan telah menggunakan alat berat seperti traktor.

"Kami mah numpang aja, Pak," ujar Suroto yang menampakkan wajah khawatir kala Tribun menyambanginya bersama seorang staf Kecamatan Kedamaian, Selasa (24/3). "Ini kan tanah orang. Kami cuma ngolah aja. Nanem singkong gitu. Kalau yang di bawah itu beda lagi. Mereka kan dah make traktor," lanjut dia.

Menempati sebuah rumah kayu, Suroto bersama keenam rekannya menjadikan areal Keratuan Balaw sebagai tempat bertani. Namun, rumah berukuran 4x8 meter persegi itu hanya rumah singgah yang digunakan saat pekerjaan menggarap tanah siang hari dilakukan. Sedangkan saat matahari condong ke Barat, ia dan rekan-rekannya akan kembali ke rumah.

Menariknya, Suroto justru mengaku tidak tahu banyak tentang situs Keratuan Balaw yang juga merupakan situs cagar budaya yang jadi lahan garapannya. Pengetahuan Suroto hanya sebatas terdapat lokasi makam dan petilasan yang mendapat perhatian lebih dari pihak kecamatan.

Di luar dua titik tersebut, ia menyatakan tidak ada yang istimewa dari lokasi yang telah lama ia tempati sebagai sumber mata pencarian. Termasuk kala disinggung lokasi yang kerap dijadikan lokasi buruan "harta karun".

"Saya mah nggak tahu apa-apa, Pak. Cuma garap lahan aja. "Tahunya cuma di bawah itu ada kuburan. Nah, yang di atas bawah pohon mangga ada petilasan. Nggak tahu itu siapa," imbuhnya.
Ditemani oleh seorang staf kecamatan, Tribun menelusuri keberadaan lokasi dua buah makam keramat.

Makam pertama berada di kaki bukit. Terdapat pelang nama bertuliskan "Situs Keratuan Balaw, di Sini Makam Ratu Mungkuk".
Makam yang berada di jalan setapak ini dalam kondisi cukup terawat. Terdapat pagar bambu yang di dalamnya ditutupi kelambu.

Oleh masyarakat sekitar, makam yang persis berdampingan dengan sebuah sungai yang ditumbuhi pohon bambu lebat ini sebagai tempat disemayamkannya pengawal setia atau orang kepercayaan dari Keratuan Balaw. Lokasi ini relatif mudah dijangkau oleh kendaraan roda dua dan empat.

Yanto, warga setempat, mengatakan, di atas bukit masih ada satu makam keramat yang bisa ditemui. Bahkan, kata pria yang berprofesi sebagai pencari rumput ini, Wali Kota Bandar Lampung Herman HN dan sejumlah pejabat pernah berkunjung ke sini. Kala itu, Herman berjanji membuat akses jalan penghubung kedua akses situs bersejarah ini.

"Iya, Mas. Di atas masih ada satu makam Keratuan Balaw lagi. Justru di sana tempat situs makam intinya. Kalau mau ke sana hati-hati ya, Mas. Karena jalannya ke lokasi tanjakan dan masih banyak belukarnya," kata Yanto, Selasa (24/3).

Peringatan yang dikatakan Yanto benar adanya. Untuk menjangkau situs kedua ini, Tribun harus melalui jalan berumput yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Kira-kira lokasinya berjarak 200 meter dari makam pertama.

Kondisi jalannya pun agak menanjak. Di sisi kiri dan kanannya ditumbuhi berbagai tanaman perkebunan warga. Bukan pekerjaan mudah untuk menemukan lokasi ini. Karena semak belukar yang menutupi akses menuju makam situs Keratuan Balaw ini cukup rimbun. Sehingga, alternatif satu-satunya yakni dengan menanyakan langsung pada warga yang kebetulan sedang beraktivitas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved