Jack si Juru Sinyal Kereta Api, Ternyata Seekor Babun
Di Indonesia, primata merupakan keluarga hewan yang telah familiar dipekerjakan membantu manusia.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PORT ELIZABETH - Di Indonesia, primata merupakan keluarga hewan yang telah familiar dipekerjakan membantu manusia.
Mulai dari menjadi pemetik kelapa hingga menjadi penghibur di topeng monyet, primata dekat dengan keseharian manusia. Namun, apa jadinya bila primata dipekerjakan di perusahaan kereta api?
Bekerja di perusahaan kereta api, terutama yang berhubungan langsung dengan pengoperasian kereta, tentunya menuntut tenaga yang cermat dan berkonsentrasi tinggi.
Namun, ternyata bukan hanya manusia yang bisa mengerjakannya. Bahkan, seekor babun alias kera besar dari Afrika, tercatat dalam sejarah, pernah bekerja sebagai juru sinyal!
Kejadian unik nan langka ini terjadi pada akhir abad ke-19 di Afrika Selatan (Afsel). Pada saat itu, para pengelana yang menuju ke Cape Town di sepanjang jalur rel utama Port Elizabeth, sering melihat sesuatu yang mencurigakan ketika mereka masuk ke stasiun.
Juru sinyal yang mengoperasikan tuas kendali sinyal di menara kendali adalah seekor babun bernama Jack.
Walaupun nampaknya aneh, namun dikutip dari Knoxvilledailysun.com, Jack adalah seorang pegawai perusahaan kereta api tersebut.
Babun tersebut milik James "Pelompat" Wide yang bekerja sebagai juru sinyal, sebelum dia kehilangan kedua kakinya dalam suatu kecelakaan.
Wide sendiri mendapatkan gelar "Pelompat" karena kebiasaannya melompat dari satu kereta ke kereta yang lain.
Seringkali, Wide bahkan berayun di sela antara dua kereta. Suatu siang pada 1877, dia mencoba melompat namun jatuh ke bagian bawah kereta yang sedang berjalan. Roda kereta yang tajam dan masif menimbulkan luka berat di kedua kakinya.
Hidup Si Pelompat kemudian hancur akibat kejadian itu. Dia tidak hanya kehilangan kedua kakinya, namun dia juga tidak bisa lagi bekerja di lapangan. Si Pelompat kemudian dipekerjakan sebagai juru sinyal di stasiun Uitenhage.
Kemudian, Wide membuat sepasang kaki palsu dari kayu yang dipahatnya sendiri. Dia juga membuat troli kecil yang dipakainya untuk beraktivitas di luar.
Namun, tetap saja Wide memiliki keterbatasan dalam segala yang dilakukannya.
Empat tahun kemudian, suatu siang, Wide sedang berkunjung ke keramaian ketika dia melihat seekor babun mengendalikan satu gerobak sapi. Dia menemui pemilik yang kemudian menunjukkan betapa cerdasnya primata tersebut.
Segera saja, Wide yakin bahwa babun itu dapat membantunya. Dia memohon si pemilik agar mengizinkan si babun menjadi miliknya.
Si pemilik sebenarnya tidak ingin menyerahkan binatang kesayangannya itu, namun dia berbelas kasihan akan Wide yang cacat.
Si pemilik kemudian memberikan babun tersebut kepada Wide, dan dimulailah satu persahabatan yang paling tidak biasa dalam sejarah perkeretaapian.
Wide dan si babun kemudian tinggal di satu pondok kecil, sekitar setengah mil dari dipo kereta. Setiap pagi, Jack akan mendorong Wide di atas troli untuk bekerja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/jack-babun_20151112_094309.jpg)