Ini Makanan Liem Sioe Liong, Kakek Deynica Welirang, Jauh dari Kesan Mahal dan Mewah
Ini Makanan Liem Sioe Liong, Kakek Deynica Welirang, Jauh dari Kesan Mahal dan Mewah
Rupanya ia mempunyai tukang cukur favorit yang sudah belasan tahun mencukur rambutnya. Kursi yang digunakan kursi butut milik tukang cukur itu.
Kesan yang segera mencuat, alangkah bersahaja pria yang selama puluhan tahun menjadi orang terkaya di Indonesia itu.
Tidak ada kesan berpura-pura sederhana. Oom Liem, ya, memang seperti itulah. Kini, tokoh yang bisnisnya ikut memengaruhi perekonomian Indonesia itu telah berpulang ke Yang Maha Pencipta, Minggu, di Singapura pada usia 97 tahun.
Banyak hal bisa dikenang dari usahawan ini. Di balik sikapnya yang amat sederhana, tersimpan kearifan dan belas yang tinggi.
Kalau berada di Jakarta, hampir setiap hari menerima tamu yang meminta bantuannya.
Ada yang minta dibantu karena belum membayar biaya rumah sakit, uang sekolah anak, kredit macet, kekurangan modal, atau tetek bengek yang tidak jelas.
Inilah salah satu latar belakang, tentu juga karena kedekatannya dengan Presiden Soeharto, mengapa para usahawan Tionghoa di Indonesia menjadikan dia seperti ”kepala suku”.
Apa yang disampaikan Oom Liem selalu dipatuhi para usahawan. Bahkan, kalau ada sesama usahawan ”bertikai”, Oom Liem cukup mengangkat telepon dan bergurau dan kedua pengusaha itu langsung berdamai.
Suatu ketika ia mendengar masih terdapat ratusan ribu warga keturunan Tionghoa sedang kesulitan.
Mereka puluhan tahun tinggal di Indonesia, tetapi tidak mempunyai cukup uang untuk mengurus proses pindah kewarganegaraan.
Oom Liem mengontak beberapa sahabatnya untuk bersama-sama mengeluarkan lebih dari Rp 150 miliar untuk membantu mereka.
Ia suka membantu siapa saja tanpa melihat latar belakang mereka.
”Ada satu teman dari Jawa Tengah, aduh dia baru saja kehilangan istri dan dua anaknya. Ia hidup sebatang kara, sekarang dirawat di rumah sakit. Tidak bisa keluar karena miskin. Kasihan, dia harus dibantu,” ujar Oom Liem sambil menyeka air matanya.
Dalam banyak percakapan dengan Kompas, Oom Liem kerap menyatakan bahwa ia merasa heran mengapa banyak yang melihat ia seolah langsung menjadi pengusaha besar.
Menurut Oom Liem, ia bisa tiba pada taraf tinggi karena berjuang tanpa lelah dari bawah sejak datang dari Futsing, Hokkian, China selatan, lebih dari tujuh puluhan tahun silam.