Modal Petani Jagung Rp 8,5 Juta per Ha, Penghasilannya Hanya Segini
Udin, petani jagung di Desa Gilih Sukanegeri, mengatakan, harga bibit saat ini Rp 500 ribu per sak. Setiap hektare diperlukan tiga sak bibit.
Penulis: anung bayuardi | Editor: Daniel Tri Hardanto
Laporan Reporter Tribun Lampung Anung Bayuardi
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KOTABUMI - Sejumlah petani di Kabupaten Lampung Utara mengeluhkan turunnya harga jagung. Padahal, saat ini mereka sedang memasuki masa panen jagung.
Saat ini, harga jagung basah turun dari Rp 2.800 per kg menjadi Rp 1.900 per kg. Sementara jagung kering turun dari Rp 3.300 per kg menjadi Rp 3.000 per kg.
Sejumlah petani jagung di Desa Gilih Sukanegeri, Kecamatan Abung Selatan mengaku banyak mengalami kerugian dengan harga hanya Rp 1.900 per kg. Pasalnya, biaya menanam dan merawatnya lebih besar.
Baca: Petani Jagung Tak Bisa Penuhi Standar Bulog, Ini Penyebabnya
Baca: Ratu Belanda Diagendakan Kunjungi Petani Jagung di Katibung
Udin, petani jagung di Desa Gilih Sukanegeri, mengatakan, harga bibit saat ini Rp 500 ribu per sak. Setiap hektare diperlukan tiga sak bibit.
Kemudian urea seharga Rp 100 ribu per sak kemasan 50 kg, pupuk phonska 50 kg seharga Rp 150 ribu.
"Dalam satu hektare menggunakan pupuk 5 kuintal. Untuk bibit dan pupuk saja sudah habiskan uang Rp 2.700.000," kata Udin, Minggu (11/2/2018).
Belum lagi upah bajak lahan per hektare yang saat ini mencapai Rp 800 ribu. Ditambah obat semprot dan upah jasa yang mencapai Rp 500 ribu.
Kemudian ada biaya untuk upah tanam, membersihkan rumput sampai pengunduhan jagung. Menurut Udin, total modal per hektare mencapai Rp 8,5 juta.
"Per hektare, hasil panen hanya enam ton. Itu pun kalau normal jagungnya, Mas. Jagung tahun ini terkena penyakit bule. Tidak normal hasilnya. Jadi hanya mendapatkan 3,5 ton. Jadi hasilnya hanya Rp 6 jutaan. Apa tidak besar pasak daripada tiang," paparnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/jagung-lampura_20180211_111621.jpg)