Antoni Berat Ikuti Cara Makan di SPN yang Hanya Hitungan Detik
Mulai dilarang menghubungi keluarga atau memegang alat komunikasi. Bahkan yang paling berat adalah jadwal makan di SPN.
Penulis: andreas heru jatmiko | Editor: Reny Fitriani
Laporan Reporter Tribun Lampung Andreas Heru Jatmiko
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sempat down hingga dua hari ketika gagal di seleksi Akademi Polisi pada Tahun 2016. Bripda Antoni Sitinjak (21) bertekad menjadi lulusan terbaik diseleksi pada Tahun 2017.
"Saya Tahun 2016 sempat ikut tes seleksi Akpol namun gagal ketika masuk di tes Psikotes. Saya gugur tes itu, sampai dua hari saya gak bisa ngapa-ngapa, rasanya sangat bersalah dan down banget. Kenapa bisa gagal begini," ujar Antoni.
Baca: VIDEO - Pizzang Lampung Jajanan Pisang Berbentuk Bulat yang Kekinian
Antoni menceritakan bahwa Tahun 2016 tepatnya Bulan Mei mengikuti tes Akpol yang diikuti sekitar 3000 orang. Karena kegagalan adalah tersebut justru membuat motivasi lain untuk bisa menjadi yang terbaik di seleksi berikutnya.
"Saya gara-gara itu langsung optimis dan buat saya bersikap harus lebih baik lagi. Jugaan orangtua juga beri support ke saya yang buat untuk maju terus, " kata Antoni.
Baca: GRAFIS: 4 Tim Lolos ke Perempat Final Liga Champions
Antoni mengatakan bahwa setelah gagal semua dimulai lagi dari awal. Persiapan mulai dari fisik hingga teori. Kalau persiapan fisik, dari lari, push up dan pull up.
"Saya lari keliling lapangan bola minimal sepuluh putaran sehari, renang seminggu tiga kali, push up minimal 60 dan pull up minimal 20 kali. Kalau untuk teori saya belajar di salah satu lembaga, belajar dari Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan pengetahuan umum itu seminggu dua kali. Persiapan sekitar enam hingga delapan bulan, " kata Antoni.
Masih kata dia, ketika mengikuti tes pada Tahun 2017 peserta yang menjadi tes sekitar 4000 orang. Dengan modal persiapan sebelumnya, pihaknya percaya diri untuk mengikuti tes tersebut.
" Saya berdoa terlebih dahulu lalu saya ikuti tes. Kurang lebih dua bulan tes itu dilakukan karena setiap tes seleksi jeda waktunya satu minggu. Tes itu meliputi tes kesehatan bagian luar, psikotes, tes jasmani itu mulai dari jam 5 pagi hingga jam 11 malam lanjut antropometri , baru tes akademik, Kesehatan dalam tubuh , Wawancara dan Seleksi Pantauan Akhir, " kata Antoni.
Antoni menambahkan bahwa, dari 4000 peserta yang diterima hanya 231 orang selanjutnya diumumkan bahwa dirinya masuk di dalam peserta tersebut. Bahkan mendapat peringkat pertama untuk tes seleksi Sekolah Polisi Negara (SPN) dan juga menjadi urutan pertama tes akademik.
Hal yang paling berat yaitu ketika dua bulan awal menjalani kehidupan di SPN. Karena semua sangat berbeda dengan kehidupan biasa, semua peserta dikarantina. Mulai dilarang menghubungi keluarga atau memegang alat komunikasi. Bahkan yang paling berat adalah jadwal makan di SPN.
"Dua bulan pertama benar-benar berat. Mulai dari fisik hingga yang lain beda jauh sekali. Jam 4 pagi sudah bangun lari, nanti siang jam 12 lari lagi baru lanjut belajar atau pendidikan. Sebelum tidur masih lari lagi bisa satu atau dua jam dan istirahat jam 11 malam," kata Antoni.
Antoni mengatakan apalagi ketika jadwal makan para peserta didik diberikan waktu sesuai dengan itungan, bukan menit tetapi detik.
"Jadi pas jadwal makan, nasi udah ada, sayur dan lauk. Mending kalau makan biasa, ini hitungan detik ketiga harus sudah selesai, 1, 2, 3 semua tangan harus diangkat dan makanan harus habis, jadi harus punya trik sendiri, hitungan pertama langsung masukan makanan sebanyak mungkin tanpa harus dikunyah dan ujungnya buang air besar sangat susah. Dan kebiasaan itu dijalani hingga kurang lebih tujuh bulan, " kata Antoni.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/bripda-antoni_20180308_134600.jpg)