Polemik Azan Berlanjut, Dosen UI Dicari Rombongan Jawara Sampai Didatangi ke Kampusnya
Polemik Azan Berlanjut, Dosen UI Dicari Rombongan Jawara Sampai Didatangi ke Kampusnya
Penulis: wakos reza gautama | Editor: wakos reza gautama
Ade membalasnya.
"Pak Damin Sada.
Tolong berikan bukti yang menunjukkan saya mendiskreditkan nilai-nilai keislaman.
Kalau saya memang menghina Islam, tentu saya layak dilaknat Allah.
Tapi saya tidak pernah merasa menghina Islam.
Barangkali Bapak bisa tunjukkan kesalahan saya?
Saya khawatir kalau Bapak ternyata tidak bisa membuktikan tuduhan Bapak terhadap saya, bapak sendiri yang akan dilaknat Allah." tulisnya di akun Facebook.
Tak puas, Damin Sada mengunggah foto surat dari Dewan Pimpinan Pusat Jawara Jaga Kampung Nusantara (jajaka Nusantara) yang ingin meminta bertemu dengan Ade untuk klarifikasi.
Ade Armando pun akhirnya memberikan klarifikasinya terkait ucapannya mengenai azan tidak suci.
"SOAL AZAN YANG TIDAK SUCI
Gara-gara saya menulis bahwa ‘azan itu tidak suci’, saya dihujat kanan-kiri.
Ada yang mau bikin perhitungan. Ada yang bilang saya menodai Islam. Ada yang berdoa agar Allah melaknat saya. Ada yang bilang, darah saya halal.
Reaksi negatif semacam ini, menurut saya, mencerminkan kekurangpengetahuan tentang Islam. Kalau saja teman-teman yang protes ini menyempatkan waktu belajar kembali tentang Islam dan sejarah Islam, mereka tentu tidak perlu marah-marah.
Begini lho.
Apa sih yang dalam Islam dipandang suci? Allah jelas Maha Suci. Al Quran jelas suci karena merupakan kumpulan ayat-ayat Allah. Tapi azan?
Azan seperti yang kita kenal saat ini bukanlah perintah Allah.
Bacalah sejarahnya.
Praktek azan dimulai pada tahun ke-2 Hijriah. Ini dimulai dengan musyawarah antara Nabi Muhammad dan para sahabat tentang apa cara terbaik untuk memberitahu umat Islam bahwa sudah tiba waktu shalat. Harap catat, saat itu tidak ada jam.
Ada beberapa ide dikemukakan sahabat. Ada yang bilang, kibarkan saja bendera. Ada yang mengusulkan, tiup terompet. Ada pula ide membunyikan lonceng. Ada yang menyarankan, menyalakan api. Tapi akhirnya yang dipilih adalah memanggil orang shalat dengan mengumandangkan azan seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jadi ini adalah hasil kesepakatan Nabi dan para sahabat.