Kakek 90 Tahun Hidup Sebatang Kara di Gubuk Kumuh Bak Kandang Hewan
Gubuk itu tidak pantas untuk ditinggali manusia karena tak ubahnya seperti kandang hewan.
Penulis: Dedi Sutomo | Editor: martin tobing
Laporan Wartawan Tribun Lampung Dedi Sutomo
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALIANDA - Setiap orang mungkin bermimpi menikmati hari senja bahagia.
Seperti bermain dengan anak cucu, menjalankan ibadah serta kegiatan sosial tanpa dibebani persoalan hidup yang berat.
Tapi mimpi ini bukanlah milik Zakaria Umar (90).
Di usia senjanya ia tinggal sendirian di sebuah gubuk kecil kumuh lokasinya di tengah kebun pisang Dusun Belebu, Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan.
Bedasarkan pengamatan, gubuk itu tidak pantas untuk ditinggali manusia karena tak ubahnya seperti kandang hewan.
Baca: 25 Tahun Pria Ini Sendirian Mengukir Mahakarya Mengejutkan di Gua
Gubuk kecil itu terbuat dari bekas pelepah kepala pisang jatuh mengering dari pohon plus ditopang bambu.

Agargubukbisa seperti "rumah", Zakaria menambahkan plastik dan terpal bekas (sampah) sebagai atap agar ketika hujan, air tidak masuk dalam gubuk kecilnya.
Di dalam gubuk, tercecer perabotan plastik, sepatu bekas dan baju bekas.
Terkait alasannya tinggal sendiri, tanpa sanak saudara dan tidak menikah ia hanya menjawab simple.
"Tidak ada yang mau sama saya. Saya juga nyaman tinggal sendiri," ujarnya, Selasa (15/50.
Baca: Pemilik Cafe Ini Pekerjakan Pria Gelandangan, 2 Minggu Kemudian Alami Kisah Mengejutkan!
Bedasarkan ceritanya, Pak Zak berasal dari Jember, Jawa Timur. Ia datang ke Lampung 1970-an.
Sebelum datang ke Desa Totoharjo 1980 lalu, ia sempat tinggal di Teluk Betung, Bandar Lampung, Talang Padang, Tanggamus dan Kota Bumi Lampung Utara.
"Saya pernah sekolah di pondok pesantren di Jawa Timur."
"Saat tiba di Totoharjo dulu saya mengajar mengaji lalu membantu mendirikan musala di sini," ujar Pak Zak sapaan akrab Kakek ini, Selasa (15/5/2018).
Ia pun mengaku pernah bekerja di tambak udang di Dusun Belebu.
Baca: Pemuda Pamer Foto Makan di Restoran, Benda Warna Hitam di Meja Bikin Viral
Namun kini, guna memenuhi kebutuhan hidup, Pak Zak biasanya menjual kelapa ke Pasar Bakauheni berjalan kaki sepanjang sekitar 5 kilometer.

Kelapaitu diambil dari pohon kelapa ada lahan warga sekitar gubuk tempat tinggalnya.
Warga setempat memang telah memberikan izin baginya untuk memetik beberapa buah kelapa guna kebutuhan sehari-hari.
Joko, warga setempat mengatakan, Pak Zak sebelum tinggal di gubuknya saat ini pernah bermuki, di gudang.
Tetapi gudang tersebut terbakar.
"Warga disini sempat membuatkan sebuah pondok kecil."
Baca: Cewek Baper Dapat Perlakuan Manis Driver Ojek Malah Berbuntut Panjang, Pacar Si Driver Ngamuk
"Mungkin karena tempatnya dilokasi yang ramai, pak Zak kurang nyaman. Dia tidak mau pindah," ujar pak Joko.
Pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini menambahkan, keseharian kakek Zakaria tidak pernah meminta uang.
Kalaupun meminta hanya sekadar garam, gula dan bumbu-bumbuan untuk memasak. (*)