Ramadan 2018

Alquran Tertua di Lampung Berusia Hampir 2 Abad, Masih Terbaca Jelas meski Kertas Termakan Usia

Dua Alquran yang berusia hampir dua abad tersebut, menjadi Alquran tertua di Lampung.

Alquran Tertua di Lampung Berusia Hampir 2 Abad, Masih Terbaca Jelas meski Kertas Termakan Usia
TRIBUN LAMPUNG/ana puspita sari
Penjaga Masjid Jami Al Anwar, Sumanta memperlihatkan Alquran tertua di Lampung, yang tersimpan di ruang perpustakaan masjid tersebut, Senin (21/5/2018). 

Laporan Reporter Tribun Lampung Ana Puspita Sari

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Dengan warna sampul yang sudah tampak mulai pudar, dua Alquran bersampul hijau masih tersimpan rapi di dalam satu lemari kaca. Dua Alquran yang berusia hampir dua abad tersebut, menjadi Alquran tertua di Lampung.

Kedua Alquran berukuran 30x50 centimeterpersegi itu sudah ada sejak tahun 1839.

Hal itu seiring dengan pendirian Masjid Jami Al Anwar, Bandar Lampung, tempat kedua Alquran tertua di Lampung itu berada.

Penjaga Masjid Jami Al Anwar, Sumanta mengatakan, selain warna sampul yang sudah memudar, lembaran Alquran tersebut pun sudah berwarna cokelat karena termakan usia.

Baca: Tradisi Buka Puasa Bersama di Masjid Bandar Lampung, 28 Panitia Siapkan Menu di Masjid Taqwa

Meski begitu, ayat-ayat suci di dalamnya masih bisa terbaca dengan jelas.

Menurut Sumanta, Alquran tertua di Lampung tersebut ditulis tangan seorang kiai.

Walau begitu, nama kiai tersebut tidak diketahui sampai saat ini.

“Kalau dibuka, tulisannya masih bagus, masih bisa terbaca,” kata Sumanta, Senin (21/5/2018).

Kedua Alquran tersebut, menurut Sumanta, saat ini hanya disimpan di lemari kaca, yang terletak di ruang perpustakaan Masjid Jami Al Anwar.

Hal itu dilakukan agar Alquran bersejarah tersebut tidak cepat rusak.

“Karena, usianya sudah ratusan tahun. Makanya, sengaja ditempatkan di lemari kaca seperti ini supaya tidak cepat rusak,” tutur Sumanta.

Di ruang perpustakaan Masjid Jami Al Anwar, selain dua Alquran tertua di Lampung, ada ribuan kitab kuno dan buku, yang juga dipajang rapi di dalam lemari-lemari kaca.

Kitab dan buku tersebut ditulis dengan berbagai bahasa, mulai dari Arab, Belanda, Inggris, dan sebagainya.

“Selain yang dipajang di lemari kaca di perpustakaan, ada buku dan kitab kuno yang disimpan karena sudah tidak bisa dipajang lagi. Dulu, masih sering orang membaca koleksi di sini,” jelas Sumanta.

Penulis: Ana Puspita Sari
Editor: Ridwan Hardiansyah
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved