Polemik Alih Fungsi Pasar Griya Sukarame: Mahasiswa Lapor Polisi, Pemkot Siap Diperiksa

Pemkot Bandar Lampung siap memenuhi panggilan polisi terkait laporan dugaan penganiayaan terhadap mahasiswa dan warga.

Tribunlampung/Bayu
Pasar Griya Sukarame pasca penggusuran 

Laporan Reporter Tribun Lampung Bayu Saputra

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pemkot Bandar Lampung siap memenuhi panggilan polisi terkait laporan dugaan penganiayaan terhadap mahasiswa dan warga. Penganiayaan diduga terjadi saat penggusuran di lahan Pasar Griya Sukarame, Jumat (20/7) pekan lalu.

Sekretaris Kota Bandar Lampung Badri Tamam menilai, langkah melaporkan dugaan penganiayaan ke kepolisian merupakan hak setiap warga negara. Ia pun memastikan tindakan pemkot tersebut telah sesuai prosedur.

Baca: Dari Wiyadi Hingga Yuhadi, 7 Ketua Partai Siap Berburu Kursi DPRD Kota

"Silakan saja lapor. Nanti kami akan menjelaskan semuanya. Saat proses penggusuran, mereka (diduga) mencoba menghalangi petugas," kata Badri saat dihubungi melalui ponsel, Minggu (22/7).

Baca: Mahasiswi Tersedu Berkas KKN Ludes Dilalap Si Jago Merah

Badri mengungkapkan, pemkot sudah beberapa kali melakukan sosialisasi terkait alih fungsi lahan pasar untuk pembangunan kantor Kejaksaan Negeri Bandar Lampung.

Dari seratusan warga yang tinggal di lokasi itu, beber dia, tinggal 26 warga yang bertahan.

Pemkot pun, sambung Badri, telah memberi solusi kepada warga agar menempati rumah susun.

"Jadi, kurang bijak apa lagi pemkot memfasilitasi warga di pasar itu? Ditempatkan di rusun itu, menurut kami, sudah manusiawi," ujarnya.

Kristina Tia Ayu, mahasiswi yang ikut membela warga, telah melaporkan dugaan penganiayaan yang dialaminya serta warga dan mahasiswa lainnya ke Polda Lampung.

"Kami telah melaporkan oknum Pol PP (anggota Badan Polisi Pamong Praja) itu ke Polda Lampung dengan nomor STTPL/1070/VII/2018/SPKT," katanya.

Dalam pelaporan yang didampingi Lembaga Bantuan Hukum Bandar Lampung, pihaknya meminta polisi mengusut kasus tersebut.

Sementara Hartuti (46), warga di lahan Pasar Griya Sukarame, menyatakan kecewa dengan kebijakan pemkot. Ia mengaku sudah menempati lahan tersebut sejak tahun 2000, termasuk berdagang atas persetujuan Dinas Pasar saat itu.

"Penggusuran ini tidak ada kemanusiaannya. Saya harap pemerintah mendengar jeritan masyarakat," ujarnya.

Hingga kini, beberapa warga masih bertahan di lahan pasar yang telah digusur dan dipagari seng tersebut. (byu)

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Reny Fitriani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved