Lahiran Secara Caesar, Ibu Asal Lamteng Meninggal. Meski Dianggap Lalai, Keluarga Tak Tuntut RSUD

Kasus meninggalnya ibu usai melahirkan terjadi di Gunung Sugih, Lampung Tengah, Provinsi Lampung.

Penulis: syamsiralam | Editor: Teguh Prasetyo
Thinkstockphotos
Ilustrasi 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Kasus meninggalnya ibu usai melahirkan terjadi di Gunung Sugih, Lampung Tengah, Provinsi Lampung. 

Seorang ibu hamil bernama Ratna (33), meninggal dunia usai melahirkan anak keempatnya di RSUD Demang Sepulau Raya, Rabu 1 Agustus 2018 lalu.

Baca: Kejadian Nyata! Ibu Melahirkan Bayi Berwujud Putri Duyung, Ini Foto-fotonya

Warga Kelurahan Komering Agung, Kecamatan Gunung Sugih ini meninggal dunia diduga karena pendarahan hebat usai operasi caesar.

Pihak keluarga pun sangat menyayangkan peristiwa itu.

Keponakan korban, Raston (25), menganggap pihak rumah sakit lalai dalam menangani Ratna saat operasi maupun pascaoperasi.

"Keluarga tak menuntut apa-apa. Ini takdir Allah. Tapi, kami menyayangkan atas kelalaian pihak rumah sakit, baik perawat, bidan, dan dokter. Tidak ada tindakan pemeriksaan apa pun meski sudah dilaporkan," terang Raston.

Ia berharap, jangan sampai kejadian yang menimpa sang bibi terulang lagi dan menimpa pasien lainnya.

"Cukup kami yang mengalami. Paman saya kehilangan istrinya dan anak-anaknya menjadi yatim," ucapnya. Kematian Ratna bermula ketika merasa tidak enak badan Minggu 29 Juli 2018 pagi.

Ratna berobat ke dokter umum. Hasil pengecekan, Ratna diminta menjalani perawatan di rumah sakit karena mengidap darah tinggi.

Wanita yang sedang hamil delapan bulan ini, pun pergi ke RSUD Demang Sepulau Raya.

Pihak rumah sakit lalu melakukan USG. "Hasil USG menyatakan harus operasi caesar," kata Raston.

Baca: Ibu Melahirkan yang Ditahan RSUD Abdul Moeloek karena Tak Punya Uang Akhirnya Dibebaskan Donatur

Nawawi, suami Ratna, setuju dengan saran dari dokter.

Dilakukanlah operasi caesar pada Selasa (31/7/2018), sekitar pukul 10.00 WIB.

Dua jam kemudian, Ratna melahirkan bayi laki-laki.

Namun sekitar pukul 15.00 WIB Ratna dibawa ke ruang perawatan namun tidak dilakukan pemeriksaan hingga pukul 18.00 WIB.

Padahal saat itu Ratna mengeluhkan pendarahan karena merasa basah.

Perawat hanya memberikan obat penurun darah tinggi.

Karena tidak ada pihak rumah sakit yang mengecek kondisi Ratna, pihak keluarga pun berinisiatif mengecek sendiri. "Ternyata banyak darah yang keluar," tutur Raston.

Pada pukul 22.10 WIB, perawat datang mengambil sampel darah dan meminta suami almarhumah membawa ke laboratorium karena kondisi tubuhnya menurun dan merasa dingin.

"Suami dan anak disuruh ambil obat di apotek. Sekembalinya dari apotek ke ruangan sudah ramai. Almarhumah dipaksa banyak minum air putih dan akan dipasang infus lagi. Tak lama dari itu, korban dinyatakan meninggal dan saat itu pun jenazah tidak diurus dengan alasan tidak ada kain," bebernya.

Baca: Fakta-fakta Ini Bungkam Netizen yang Remehkan Ibu Melahirkan Caesar

Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Demang Sepulau Raya berikan keterangan terkait meninggalnya pasien caesar pada Rabu (1/8/2018) lalu.

RSUD Demang Raya
RSUD Demang Sepulau Raya (tribunlampung/syamsir alam)

Pihak rumah sakit mengatakan telah bertindak sesuai prosedur.

dr Voni yang menangani pasien caesar atas nama Ratna (33) menjelaskan, tindakan medis harus diambil pihaknya lantaran kondisi tekanan darah korban sangat tinggi.

Sehingga, perlu dilakukan langkah pemberian medis determinasi (penghentian masa kehamilan).

"Almarhum mempunyai riwayat hipertensi (darah tinggi) sejak 12 tahun lalu. Saat pertama kali datang (ke RS) dengan keluhan sakit di kepala, tensi darahnya 230/160. Kondisi mulas dan tidak ada ketuban," terang dr Voni, kepada sejumlah awak media, Senin (6/8/2018).

Terkait kondisi kandungan, lanjut dr Voni, dengan keadaan sang ibu sehingga perlu diambil tindakan caesar dan membahayakan jika diambil tindakan persalinan normal, sementara usia janin baru berumur 33 minggu.

Prosedur itu harus diambil lantaran memperhitungkan kondisi ibu dan bayi.

Langkah pertolongan lainnya, lanjut dr Voni, pihaknya berusaha memasang infus dua jalur, pemberian cairan tambahan untuk mengganti cairan yang hilang.

"Karena jika tidak diambil tindakan caesar maka bisa membahayakan keduanya (ibu dan anak). Kita juga memberikan obat pencegahan komplikasi. Diberikan pematangan paru supaya bayi kuat dan prosedur itu sesuai Protap harus dua hari," bebernya.

Tindakan pasca persalinan pun lanjutnya diambil dengan memberikan resistensi jantung paru (RJP), karena kondisi tensi darahnya fluktuatif (tidak stabil).

Sehingga, dengan kondisi tersebut Ratna dinyatakan meninggal pada 00.10 WIB.

Baca: Kasus Kematian Ibu Melahirkan di Lampura Menurun

Sementara Direktur RSUD Demang Sepulau Raya mengucapkan rasa belasungkawa atas meninggalnya pasien Ratna.

Namun begitu, pihak rumah sakit juga enggan disebut lalai terhadap penanganan pasien di rumah sakit plat merah itu.

"Pertama-tama atas nama pribadi dan manajemen (RSUD DSR), kami menyampaikan rasa belasungkawa yang dalam. Tapi kami hari ini (kemarin) meluruskan terkait pemberitaan adanya kelalaian," terang Direktur RSUD DSR dr Otniel Sriwidiatmoko.

Ia menjelaskan, pihaknya telah menangani pasien sesuai dengan prosedur medis.

Bahkan, penanganan maksimal dilakukan saat pasien datang, selama operasi dan pascaoperasi.

Baca: Seorang Ibu Melahirkan di Pesawat, Pramugari Berubah Peran Jadi Bidan

Sedangkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Lamteng menjelaskan, bahwa banyak masyarakat masih awam terkait hipertensi dan pre eklamasi berat (PEB) pada ibu hamil.

Ketua IDI Lamteng, dr. Yosi Arnos menyebutkan, kedua gejala pada ibu hamil sangat membahayakan.

"Hipertensi dan PEB merupakan gejala yang sebenarnya paling banyak menyebabkan meninggalnya ibu saat melahirkan. Dengan begitu, akan sangat membahayakan ibu dan bayinya," ujar Yosi Arnos.

Sementara dr Yunus menyatakan, pematangan paru janin perlu dilakukan kepada ibu dengan gejala hipertensi dan PEB.

Sehingga, proses persalinan dapat diperhitungkan penyelamatan ibu dan anak, dan jika memungkinakan menyelamatkan satu di antara keduanya. (sam)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved