Tsunami Pesisir Lampung
UPDATE TSUNAMI LAMPUNG - KRI Torani Kirim Logistik untuk 1.600 Warga Pulau Sebesi
KRI Torani akan membawa bantuan logistik bagi warga yang masih bertahan di Pulau Sebesi.
Penulis: Dedi Sutomo | Editor: Daniel Tri Hardanto
Selanjutnya, para pengungsi tersebut dibawa menggunakan bus Trans Lampung menuju pengungsian di lapangan tenis indoor kompleks perkantoran Pemkab Lamsel di Kalianda.
Pantauan Tribunlampung.co.id di Pelabuhan Panjang, tempat bersandarnya KRI Teluk Cirebon 543, sejumlah anggota Lanal Lampung dan Pelabuhan Panjang sudah berjaga sejak pukul 17.00 WIB.
• UPDATE TSUNAMI LAMPUNG - Sempat Menolak, 432 Warga Pulau Sebesi Akhirnya Mau Dievakuasi
Kapal tiba di Pelabuhan Panjang sekira pukul 18.30 WIB.
Danlanal Lampung Kolonel Laut (p) A Agung PS mengungkapkan, KRI Teluk Cirebon 543 memutuskan untuk bersandar di Pelabuhan Panjang.
Alasannya, dermaga di Pelabuhan Bakauheni dan Canti, Lampung Selatan, tidak memungkinkan untuk menurunkan penumpang.
“Jumlah warga yang diangkut ini ada 432 orang. Ini penyeberangan terakhir setelah tiga kapal sebelumnya yang mengangkut warga Pulau Sebesi sejumlah 1.500 orang. Diperkirakan masih ada sekitar 400 warga yang bertahan di Pulau Sebesi,” kata Agung kepada awak media di Pelabuhan Panjang.
Erupsi Gunung Anak Krakatau
Ribuan warga Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku dievakuasi ke Bakauheni menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau, Rabu, 26 Desember 2018.
Sejak akhir pekan kemarin, debu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau menyelimuti pulau.
Suara letusan Gunung Anak Krakatau pun terus terdengar sepanjang hari.
"Sekarang debu Gunung Anak Krakatau menyelimuti pulau, dan suara letusannya semakin kuat. Karenanya, kita minta dievakuasi, khawatir dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau," kata Suganda, warga Pulau Sebesi yang dievakuasi.
• Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terbang 15 Km, Rute Penerbangan Lampung-Jakarta Dialihkan
Abdul Raham, warga lainnya, mengaku setiap kali ada suara letusan selalu diikuti dengan kilat yang menakutkan.
Pemandangan seperti itu, imbuhnya, sebelumnya tidak pernah terjadi, meski aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat.
"Kondisinya sangat mencekam. Debu Gunung Anak Krakatau mulai menyelimuti Pulau Sebesi. Suara gelegar letusan juga sangat kuat," kata dia.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau itulah yang membuat warga Pulau Sebesi meminta dievakuasi ke darat.