Profesor Hamid, Penggembala Kambing asal Lampung Tengah yang Jadi Dosen di Negeri Paman Sam

Siapa sangka, seorang pria asal Lampung Tengah bisa meraih gelar profesor dan menjadi dosen di Negeri Paman Sam. Dia adalah Prof Hamid Nurrohman.

Profesor Hamid, Penggembala Kambing asal Lampung Tengah yang Jadi Dosen di Negeri Paman Sam
Facebook/Hamid Nurrohman
Profesor Hamid Nurrohman, penggembala kambing asal Lampung Tengah yang jadi dosen di Negeri Paman Sam. 

Paten Internasional

Sebagai profesor di kedokteran gigi, Hamid menekuni bidang restorative dentistry.

"Selain bekerja sebagai profesor di bidang restorative dentistry di MOSDOH, saya mengajar sebagai visiting professor di UCSF," tambah Hamid.

Di MOSDOH, kemampuan Hamid di dunia riset semakin terasah.

Hamid Nurrohman (belakang) bersama sesama dosen di Missouri School of Dentistry and Oral Health (MOSDOH), Amerika Serikat.
Hamid Nurrohman (belakang) bersama sesama dosen di Missouri School of Dentistry and Oral Health (MOSDOH), Amerika Serikat. (Facebook/Hamid Nurrohman)

Bagi Hamid, penelitian sudah menjadi bagian dari kehidupannya.

Di sela kesibukannya mengajar, ia selalu menyempatkan diri untuk melakukan penelitian.

Hingga kini, tak kurang dari 15 jurnal ilmiah sudah dipublikasikannya.

Puncaknya, ia bisa mendapatkan paten internasional di bidang reminarelisasi gigi pada 2017 lalu.

Link-nya bisa diklik di sini

Jabat Pangkostrad, Inilah Letjen Andika Perkasa Menantu Profesor Intelijen Hendropriyono

Green Card

Saat ini, Hamid dan keluarga kecilnya menempati sebuah rumah di 1904 Salter Place, Kirksville, Missouri, AS.

Bersama Lisa Yustisia, Hamid dianugerahi dua anak, yakni Muhammad Ali Nurrohman (11) dan Kate Nurrohman (4).

Profesor Hamid Nurrohman bersama keluarga.
Profesor Hamid Nurrohman bersama keluarga. (Facebook/Hamid Nurrohman)

Selama tinggal di negeri orang, Hamid mengaku tak pernah mendapatkan masalah berarti.

Apalagi ia mengantongi visa istimewa yang disebut Green Card.

Dengan Green Card, Hamid dan keluarganya memiliki hak yang sama dengan warga AS lainnya.

"Bedanya, saya dan keluarga cuma gak boleh ikut pemilu," ujar Hamid.

Hamid mengaku beruntung bisa mendapatkan Green Card dalam tempo singkat, yakni hanya satu tahun setelah bermukim di AS.

Pasalnya, kebanyakan imigran harus menunggu 20-30 tahun untuk bisa memilikinya.

"Setelah menunggu sekian lama, itu pun belum tentu mereka bisa dapat Green Card," imbuhnya.

Meski begitu, Hamid menegaskan, ia dan keluarganya tidak akan berpindah kewarganegaraan sampai kapan pun.

"Tentu, saya ingin kembali ke Indonesia suatu saat nanti. Saya ingin mengajar dan berbagi ilmu tentang kedokteran gigi kepada mahasiswa Indonesia. Saya juga bermimpi untuk membuat universitas di bidang FK & FKG, rumah sakit, research center dalam bidang kesehatan gigi dan mulut yang bisa bermanfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia," ungkap Hamid. 

Donald Trump Serukan Antiimigran, Ini Reaksi Bos-bos Perusahaan Teknologi AS

Rindukan Suara Azan

Sebagai seorang Muslim, Hamid dan keluarganya mengalami sedikit kesulitan jika ingin menjalani ibadah di masjid.

Pasalnya, di sekitar tempat tinggalnya tidak ada bangunan masjid.

"Masjid paling dekat sekitar 1,5 jam perjalanan dari sini. Saya sangat merindukan suara azan," ujar Hamid pelan.

Sehari-hari, Hamid dan keluarga lebih banyak beribadah di rumah.

Demi membuat anak sulungnya, Ali, bisa belajar membaca Alquran, Hamid harus "mendatangkan" guru dari Pakistan.

"Belajarnya via online pakai Skype. Jadi belajarnya setiap hari pas Magrib," ucap Hamid lagi.

Untuk urusan makan, Hamid mengaku tak ada masalah.

Sebab, selama ini sang istri sangat lihai meracik menu ala Indonesia.

"Kayak lontong sayur  dan masakan Indonesia lainnya istri saya bisa bikin. Apalagi di sini ada toko yang menjual berbagai bahan makanan Asia," tambah Hamid.

Meski begitu, tak bisa dimungkiri Hamid ternyata sangat merindukan menu nasi padang.

"Wah, kalo nasi padang jangan ditanya. Kangen banget. Apalagi yang namanya telur dadar, tunjang, kikil, sama kerupuk paru," kata Hamid seraya terkekeh. (*)

Penulis: Daniel Tri Hardanto
Editor: Daniel Tri Hardanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved