Breaking News:

Tribun Bandar Lampung

Mahasiswa UIN Raden Intan dan Polinela Belajar di LSM Mitra Bentala

Sebanyak 30 mahasiswa dari UIN Raden Intan Lampung dan Politeknik Negeri Lampung belajar di Mitra Bentala.

Penulis: Bayu Saputra | Editor: Yoso Muliawan
ISTIMEWA
SIMAK MATERI - Mahasiswa-mahasiswi anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Maharipal UIN Raden Intan dan Poltapala Politeknik Negeri Lampung belajar di Mitra Bentala, lembaga swadaya masyarakat yang fokus isu pesisir, 16-23 Februari 2019. 

LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG BAYU SAPUTRA

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sebanyak 30 mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung dan Politeknik Negeri Lampung belajar di Mitra Bentala, lembaga swadaya masyarakat yang fokus isu pesisir. Selama sepekan, 16-23 Februari, mereka mempelajari tentang sumber daya alam.

"Mahasiswa yang belajar tentang SDA ini berasal dari Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Maharipal UIN Raden Intan dan Poltapala Polinela," kata Direktur Mitra Bentala Mashabi melalui rilis, Rabu (27/2/2019).

Mashabi menjelaskan, pendidikan SDA pesisir, konservasi, dan hutan sangat penting. Pihaknya pun berharap para peserta menumbuhkembangkan kesadaran untuk peduli terhadap SDA demi keberlanjutan masa depan.

"Mahasiswa sebagai kaum intelektual juga bisa membagi pengetahuan tersebut kepada masyarakat umum," ujarnya.

Ketua Pecinta Alam Maharipal UIN Raden Intan Ichsan berharap pembelajaran seperti ini bisa berjalan secara rutin, khususnya bagi anggota angkatan baru.

"Pendidikan semacam ini penting bagi Maharipal sebagai pendidikan dasar untuk peningkatan pengetahuan tentang lingkungan hidup. Kami bisa lebih tahu tentang alam langsung dari lembaga yang rutin menangani persoalan alam," katanya.

Ketua Poltapala Polinela Merry Tyias Astuti berterima kasih kepada Mitra Bentala atas ilmu dan pengetahuan dari kegiatan belajar tersebut.

"Kegiatan seperti ini rutin setiap tahun kami laksanakan. Ini untuk pendidikan dasar pengetahuan tentang SDA," ujarnya.

Dalam kegiatan belajar itu, terdapat dua tahap pemberian materi. Pertama, materi indoor, yaitu penyampaian berbagai materi yang berkaitan dengan lingkungan, organisasi, dan kepemimpinan di dalam ruangan.

Kedua, materi outdoor, yakni penyampaian materi melalui observasi lapangan. Tujuannya untuk melihat , mengamati, dan mempelajari secara langsung kondisi alam.

"Isu yang kami bahas, seperti persoalan sampah dan banjir yang melanda Bandar Lampung. Tentu ada sesuatu yang tidak seimbang dari kondisi lingkungan, sehingga berdampak pada terjadinya degradasi lingkungan. Kami jadi mengetahui penyebab banjir dan sebagainya," papar Merry. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved