Tribun Bandar Lampung
Perbaikan Talud Hancur Akibat Banjir Pakai Dana Darurat
Pemkot Bandar Lampung akan memperbaiki talud-talud yang rusak pascabanjir menggunakan dana darurat.
LAPORAN REPORTER TRIBUN LAMPUNG EKA AHMAD SHOLICHIN DAN ROMI RINANDO
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Pemkot Bandar Lampung akan memperbaiki talud-talud yang rusak pascabanjir beberapa waktu lalu menggunakan dana darurat. Saat ini, Dinas Pekerjaan Umum sedang menghitung kebutuhan dana untuk perbaikan tersebut.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Kota Bandar Lampung Pola Pardede menyatakan, pemkot secepatnya memperbaiki talud-talud yang roboh dan hancur pascabanjir.
"Perbaikan secepatnya. Nanti menggunakan dana darurat atau program kegiatan. Sekarang Dinas PU sedang menghitung. Mudah-mudahan nggak hujan dulu selama dua minggu ini, sehingga perbaikan bisa berjalan," kata Pola di sela-sela mengecek talud hancur di Gang Lambang antara Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kedaton, dengan Kelurahan Labuhan Ratu, Kecamatan Labuhan Ratu, Jumat (1/3/2019).
Merujuk catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bandar Lampung, setidaknya ada 15 titik talud yang rusak pascabanjir di sejumlah tempat beberapa waktu lalu. Mulai dari talud di Jalan Raden Gunawan, Kelurahan Kepayang, Sungai Ragom Gawi; Jalan Nunyai, Sungai Way Rajabasa; hingga Jalan Pagar Alam, Gang Lambang, Sungai Way Balau.
Kemudian di Jalan H Komarudin, Perumahan Gelora Persada, Kelurahan Rajabasa Raya, Sungai Way Kandis; Jalan Narada, Kelurahan Jagabaya I, Sungai Way Awi; Jalan H Syarif, Gang Tarya, Sungai Way Balau; dan lainnya.
Dalam pemantauan talud roboh di Gang Lambang, turut hadir Kepala BPBD Bandar Lampung Syamsul Rahman. Rombongan bertemu sejumlah warga yang menyampaikan aspirasi mengenai masalah banjir.
Warga RT 1, Kelurahan Kedaton, meminta penanganan secepatnya terkait talud yang jebol serta persoalan banjir.
"Kami minta penanganan segera. Robohkan sisa bangunan talud yang masih berdiri. Khawatir roboh, nimpa rumah saya," tutur Yana, warga yang rumahnya tepat di balik talud.
Menurut Yana, warga sudah pernah meminta agar jangan ada talud di belakang rumah.
"Sebenarnya jangan ada talud biar air tetap ngalir aja. Kalau ada talud, air malah naik dan tumpah masuk ke rumah warga kalau banjir," ujarnya.
Selain itu, Yana menilai pembuatan talud seperti asal-asalan. Pasalnya, setiap terjadi banjir, pasti jebol.
"Talud kayak cuma nempel gitu aja. Banyak pasirnya ketimbang semen. Gimana mau kuat kalau kayak gitu," tukasnya.
Sementara di Perumahaan Bahtera Indah, Kecamatan Sukabumi, beberapa warga meminta Pemkot Bandar Lampung segera membangun drainase. Itu karena kawasan Perumahaan Bahtera Indah kerap banjir saat hujan deras.
"Kami sangat berharap pemerintah segera bangun drainase untuk saluran pembuangan air hujan. Di sini selalu kebanjiran," kata Usman, warga setempat, Jumat (1/3/2019).
"Gorong-gorong di sini tersumbat tanah, sehingga perlu drainase yang lebih baik," imbuhnya.
Usman memastikan warga sudah melapor ke Pemkot dan DPRD Bandar Lampung. Petugas BPBD dan Dinas PU pun, menurut dia, telah meninjau.
"Kami berharap jangan cuma ninjau-ninjau aja, tapi benar-benar segera bangun," ujarnya.
Dana Korban Longsor
Sementara dana bantuan untuk korban tanah longsor di Kecamatan Panjang masih dalam proses pengajuan ke Pemkot Bandar Lampung. Perkiraan sementara, jumlah ganti rugi antara Rp 2 juta hingga Rp 15 juta.
"Dari data yang masuk, total ada 18 rumah yang terkena dampak longsor. (Dana) bantuan sedang kami ajukan. Besaran ganti rugi kami sesuaikan dengan Peraturan Wali Kota Nomor 13 Tahun 2017 tentang Bantuan Sosial bagi Korban Bencana di Wilayah Bandar Lampung. Sudah ada aturannya di situ," jelas Kepala Dinas Sosial Bandar Lampung Tole Dailami, Jumat (1/3/2019).
Pihaknya berharap pengajuan tersebut beres dalam satu atau dua hari ini.
"Bentuk bantuannya secara tunai. Tapi perlu kita ingat bahwa ini masih dalam usulan," kata Tole. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/asisten-ii-tinjau-talut-jebol-1.jpg)