Tribun Pringsewu

Sungai Way Buluk Kering karena Kemarau Bawa Berkah Bagi Warga di Pekon Buluk Karto

Sejumlah wilayah di Kabupaten Pringsewu dilanda kekeringan dampak musim kemarau. Di satu sisi, musim tersebut menjadi berkah segelintir warga.

Sungai Way Buluk Kering karena Kemarau Bawa Berkah Bagi Warga di Pekon Buluk Karto
TRIBUN LAMPUNG/ROBERTUS DIDIK
Warga mengumpulkan pasir dari dasar Sungai Way Buluk Pekon Buluk Karto, Kecamatan Gadingrejo yang kering untuk dibawa ke bantaran, Senin (5/8/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Lampung Robertus Didik Budiawan Cahyono

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PRINGSEWU - Sejumlah wilayah di Kabupaten Pringsewu dilanda kekeringan dampak musim kemarau.

Di satu sisi, musim tersebut menjadi berkah segelintir warga tinggal di bantaran Sungai Way Buluk Pekon Buluk Karto, Kecamatan Gadingrejo.

Sekitar lima kepala keluarga (KK) di lokasi tersebut justru mendapat keuntungan mengeringnya Sungai Way Buluk di masa kemarau seperti saat ini.

Mereka mengambil pasir secara manual untuk dikumpulkan di darat. Kemudian dibeli masyarakat yang membutuhkan.

Supriyono (33), warga Pekon Buluk Karto menyampaikan, sejak dua tahun terakhir mengeruk pasir dari Sungai Way Buluk.

Pemkab Pringsewu Tunda Tunjangan Tambahan Penghasilan Beban Kerja PNS

Awalnya mengeruk pasir di sungai depan rumahnya hanya untuk keperluan sendiri untuk menyemen lantai rumahnya.

Ternyata, ada warga lainnya yang mau pasir tersebut. Alhasil Supriyono mendapat hasil dari pasir yang dikumpulkan tersebut. "Satu mobil pikup L300, dihargai Rp 200 ribu," katanya.

Pria bekerja sebagai buruh kasar ini melakoni kerjaan sebagai pengumpul pasir hanya sebatas selingan saban pagi atau sore. Selebihnya dia menjadi buruh di sawah atau industri genteng.

Hal senada disampaikan Bejoyono (71). Ia mengumpulkan pasir untuk mendapat penghasilan tambahan. Kalaupun tidak ada yang membeli, pasir tersebut dimanfaatkan sendiri.

Para pengumpul pasir ini pengamatan Tribun hanya menggunakan alat seadanya yakni cangkul dan ember, serta keranjang bambu.

Setelah mengumpulkan pasir dari dasar kali, dipindah memakai ember atau keranjang sudah diletakkan di pinggiran sungai. (*)

Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Editor: martin tobing
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved