Oknum Polisi Bunuh Diri Akibat Sebarkan Kabar Palsu Terhadap Korban Pelecehan Seksual
Seorang oknum polisi bunuh diri akibat perlakuannya kepada korban pelecehan seksual. Selain itu, seorang kepala sekolah dihukum mati.
Para pelaku lalu langsung mengikatnya, menyiramnya dengan bensin, dan membakarnya.
Korban tewas empat hari kemudian karena luka bakar 80 persen.
Sebelum meninggal, Nusrat sempat mengucapkan kalimat penghabisan bahwa dia akan berjuang, yang kemudian direkam oleh saudaranya.
Kematiannya memicu kengerian di seantero Bangladesh, dengan pengunjuk rasa turun ke jalan dan meminta "hukuman berefek jera" dalam tuntutannya.
Pembunuhan itu memberikan tekanan bagi pemerintahan Perdana Menteri Sheikh Hasina, di mana dia memerintahkan 27.000 sekolah membentuk komite mencegah kekerasan seksual.
Pemberian hukuman mati kepada 16 pelaku, seperti dikatakan Jaksa Hafez Ahmed, menunjukkan bahwa siapa pun tidak akan lari dari hukum jika sudah membunuh.
Di antara mereka yang dihukum mati, terdapat Siraj Ud Doula, kepala sekolah yang memerintahkan supaya Nusrat dibakar bidup-hidup.
Sang kepala sekolah dihukum mati akibat perbuatan kejamnya.
Selain Doula, terdapat dua guru dan dua teman sekelas Nusrat, yang terlibat dalam pembunuhan dengan cara menjaga agar dia tak kabur.
Lapor polisi
Pada akhir Maret, Nusrat Jahan Rafi pergi ke polisi untuk melaporkan kasus yang dialaminya.
Bahkan dalam rekaman yang bocor, si polisi sempat menuliskan ke catatan.
Namun setelah itu, polisi menjawab bahwa apa yang dialaminya "bukan masalah besar".
Adapun, ada polisi yang bekerja sama dengan pelaku untuk menyebarkan kabar palsu.
Si polisi itu diketahui memutuskan untuk bunuh diri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/oknum-polisi-bunuh-diri-akibat-sebarkan-kabar-palsu-terhadap-korban-pelecehan-seksual.jpg)