Tribun Tulangbawang Barat

Sharing Time Megalithic Millennium Art, Upaya Pemkab Tubaba Ciptakan Kota Budaya Berbasis Ekologi

Pemkab Tulangbawang Barat menggelar Sharing Time Megalithic Milenium Art di kota budaya Uluan Nughik di Kelurahan Panaragan Jaya

Sharing Time Megalithic Millennium Art, Upaya Pemkab Tubaba Ciptakan Kota Budaya Berbasis Ekologi
TRIBUN LAMPUNG/ENDRA ZULKARNAIN
KOTA BUDAYA - Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad (paling kiri) saat menghadiri gelaran Sharing Time Megalithic Millennium Art di kota budaya Uluan Nughik di Kelurahan Panaragan Jaya Kecamatan Tulangbawang Tengah, Rabu (22/1). Gelaran ini merupakan upaya pemkab dalam menciptakan kota budaya berbasis ekologi. 

Sharing Time Megalithic Millennium Art, Upaya Pemkab Tubaba Ciptakan Kota Budaya Berbasis Ekologi

Laporan Reporter Tribun Lampung Endra Zulkarnain 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, PANARAGAN - Sharing Time Megalithic Millennium Art, Upaya Pemkab Tubaba Ciptakan Kota Budaya Berbasis Ekologi. Pemkab Tulangbawang Barat menggelar Sharing Time Megalithic Milenium Art di kota budaya Uluan Nughik di Kelurahan Panaragan Jaya Kecamatan Tulangbawang Tengah, Rabu (22/1).

Bupati Tubaba Umar Ahmad mengatakan, Sharing Time Megalithic Millenium Art merupakan sebuah langkah dalam menciptakan kota budaya berbasis ekologi.

"Uluan Nughik sebuah konsep kota awal dari kehidupan. Sebuah kota yang diniatkan kota berbudaya berbasis ekologis. Kami sudah menyusun langkah strategis. Untuk mencapai itu, kami sudah menyiapkan beberapa langkah di antaranya menyentuh mitologi," terang Bupati Umar Ahmad, saat membuka kegiatan Sharing Time Megalithic Milenium Art.

Program Terpusat di Tiga Kecamatan, Pemkab Tubaba Matangkan Kota Timur Laut Lampung

Umar percaya dalam konsep kota budaya yang telah dibangun di Tubaba telah lahir sosok yang diberi nama Bunian."Ini sebagai makhluk yang menjaga pepohonan, sumber air, dan lainnya, yang menggambarkan suatu sifat, agar manusia berfikir dalam membuat tindakan untuk kebaikan," papar Umar.

Umar mengatakan, kegiatan sharing time adalah sebuah gagasan yang kelak akan menjadi kenangan di masa yang akan datang. "Setelah 5.000 tahun lalu rasanya manusia jarang menggagas tentang megalitikum. Relasi hubungan manusia dan alam yang kita gagas dalam kegiatan ini sebagai tanda sebuah konsep mitologi untuk menjaga kelestarian alam di masa depan," ungkap Umar.

Konsep Megalthic Millennium Art menunjukan pertemuan dua tradisi. Konsep ini lahir dari pemikiran seniman Mbah Prapto yang selama puluhan tahun berlatih Joget Amerta di situs-situs Megaltik (selain candi), sebagai ruang sunyi yang mendekatkan diri dengan alam, Tuhan dan peradaban masa silam.

Gesek Kartu Dapat Belanja Pangan Murah di e-Warong, Pemkab Tubaba Luncurkan Kartu Sakti BPNT

Sedangkan Millennium merujuk pada manusia dan situasi masa kini, berkorelasi pula pada masifnya pendidikan kesenian dan lingkungan pada anak-anak di Tubaba berkat wawasan.

Kegiatan Sharing Time Megalithic Millennium Art ini dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya mantan wagub Bachtiar Basri, Ansori Djausal,

Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Para penyaji yang akan hadir adalah, Andy Burnham (arkeolog, pendiri dan editor web Megalithic Portal, Inggris), Alex Gebe (seniman, anggota Teater Kober Lampung), Ari Rudenko (seniman lintas disiplin dari Amerika Serikat), dan Anna Thu. (end)

Penulis: Endra Zulkarnain
Editor: soni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved