Mirisnya Nasib Petani Lampung sebagai Penghasil Singkong Terbesar di Indonesia

Mirisnya, kondisi itu tidak sesuai dengan kesejahteraan para petani singkong di Lampung.

Mirisnya Nasib Petani Lampung sebagai Penghasil Singkong Terbesar di Indonesia
Tribunlampung.co.id/V Soma Ferrer
Coffee morning bertema 'Peningkatan Produktivitas dan Hilirisasi Kakao dan Ubi Kayu di Provinsi Lampung' di kantor Bank Indonesia Perwakilan Lampung, Rabu (19/2/2020). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Provinsi Lampung mampu memproduksi rata-rata 25 ton singkong per hektare dalam sekali panen.

Angka tersebut membawa Provinsi Lampung sebagai penghasil singkong terbesar di Indonesia dengan persentase lebih dari 30 persen.

Mirisnya, kondisi itu tidak sesuai dengan kesejahteraan para petani singkong di Lampung.

Hal itu dikatakan Ketua Puslitbang Cassava LPPM Unila Erwin Yuliadi.

Petani di Register 45 Mesuji Tewas Ditembak Saat Semprot Ladang Singkong

Kesulitan Cari Pakan Akibat Kemarau, Peternak Beri Makan Sapi dengan Batang Singkong dan Daun Karet

Gerebek Jaringan Narkoba di Gedong Air, Polda Lampung Ringkus 3 Pelaku

Pemkot Anggarkan Rp 4,5 Miliar untuk Bangun Kolam Lindi di TPA Bakung

"Waktu tanam relatif serentak, dibarengi waktu panen yang serentak pula. Hal tersebut berpengaruh pada kesejahteraan dan produktivitas petani singkong di Lampung," kata Erwin dalam acara coffee morning bertema 'Peningkatan Produktivitas dan Hilirisasi Kakao dan Ubi Kayu di Provinsi Lampung' di kantor Bank Indonesia Perwakilan Lampung, Rabu (19/2/2020).

Ia menjelaskan, permasalahan yang dihadapi petani dan pengusaha singkong selalu statis di setiap musimnya.

"Musim tanam, pabrik singkong kekurangan stok. Sementara saat musim panen, petani kebingungan menjual singkong-singkongnya. Hasilnya, singkongnya terpaksa terjual murah," jelasnya.

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Lampung Kuswanta mengatakan, petani singkong masih belum memahami bagaimana teknis pemupukan yang benar.

"Petani (singkong) kita secara umum masih terbatas modal sehingga pemupukan tidak maksimal. Hal tersebut membuat petani dari tahun ke tahun mengalami ketekoran," jelasnya. (Tribunlampung.co.id/V Soma Ferrer)

Penulis: Vincensius Soma Ferrer
Editor: Daniel Tri Hardanto
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved