Tribun Bandar Lampung
Gelar Bazar Amal Jual Produk Kaum Difabel, Komunitas Sahabat Difabel Lampung
Komunitas Sahabat Difabel Lampung (Sadila) ingin merubah stigma difabel sering dianggap tidak mampu melakukan aktivitas.
Penulis: Debby Rizky Susilo | Editor: Reny Fitriani
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Masyarakat kerap menilai kaum difabel adalah orang-orang yang perlu dikasihani.
Merujuk hal itu menginisiasi beberapa masyarakat mendirikan Komunitas Sahabat Difabel Lampung (Sadila) ingin merubah stigma difabel sering dianggap tidak mampu melakukan aktivitas.
Ketua Sadila Eti Muthmainah mengatakan, Sadila dapat menjadi tempat kaum difabel menunjukkan kemampuan mereka miliki.
Ia yakin kaum difabel memiliki kemampuan yang sama dengan kebanyakan orang.
"Adanya komunitas ini kami berkeinginan untuk lebih menyuarakan teman difabel karena difabel itu juga bisa melakukan hal yang sama seperti kebanyakan orang lain. Teman difabel itu bisa melakukan kerajinan, bisa usaha, bisa berkreasi, bisa bekerja sendiri tanpa dikasihani orang-orang," ujarnya.
• Kisah Wakil Lampung dalam Ajang Putera-Puteri Tari Indonesia, Ashari Tampilkan Tari Nattinggam
• Warga Gang Nurul Huda II Sulit Dapat Air Bersih, Kompol Hari Galang Donasi Bikin Sumur Bor
• Anaknya Dijanjikan Jadi Dosen di Unila, Warga Lampung Tengah Tertipu Rp 225 Juta
• Lampung Ada 2.472 Kasus DBD, Kemenkes Tetapkan Lampung Wilayah Zona Merah
Menurut Eti, teman difabel mampu membuat kerajinan dari kain perca yang diolah menjadi keset, taplak meja, taplak piring/makanan, sarung bantal.
Selain memroduksi produk, teman difabel juga ada yang menawarkan jasa seperti jahit, pijat dan lain sebagainya.
Merujuk berbagai keterampilan dimiliki kaum difabel, Komunitas Sadila mengadakan berbagai kegiatan.
Satu di antaranya, Bazaar Amal.
Konsep kegiatan itu, anggota Sadila menjual barang-barang kerajinan karya kaum difabel.
“Kami juga mengumpulkan baju bekas yang kemudian kami jual hasilnya untuk membantu usaha teman-teman difabel,” ujar Eti.
"Hasil dari keterampilan teman difabel kami jual dalam Bazaar Amal Sadila.
Target ke depan kita bisa buka lapangan pekerjaan buat teman-teman difabel," tutur Eti.
Anggota Komunitas Sadila, Suri Margi Rahayu tertarik bergabung dengan Sadila karena memiliki kelas Bahasa Isyarat bersama teman tuli.
"Niat awal belajar bahasa isyarat, tapi semakin dekat jadi ingin lebih tau tentang disabilitas. Dengan segala kegiatan di Sadila buat nyaman dan menjadi bermanfaat," ucap Suri.
Suri mengatakan, banyak manfaat didapat dalam Sadila
"Selama ikut Sadila dapat kenalan dengan teman-teman difabel. Di sini juga aku belajar karena banyak manfaat yang didapat dari kekeluargaan dan kebersamaan," tuturnya.
Gelar Kelas Isyarat
Mulanya Komunitas Sadila terbentuk dari kegiatan kelas bahasa isyarat yang dilakukan teman-teman tuna rungu dan teman dengar di Universitas Lampung.
Mereka mencetuskan Sadila karena akan mengadakan acara sebagai identitas komunitas.
Founder Sadila yang berjumlah 9 orang memiliki visi yang sama yaitu belajar untuk lebih memahami teman difabel.
Sampai saat ini jumlah anggota Sadila sebanyak 25 orang dan 40 relawan.
Pada awal berdiri, kegiatan Sadila fokus pentas seni yang dilakukan teman difabel.
"Awalnya ada teman difabel yang bisa bernyanyi, berpuisi dan tampil di panggung (sebagai sosialisasi kemampuan dan keterampilan difabel). Sekarang kegiatan Sadila mengutamakan pemberdayaan teman difabel dibidang usaha," jelas Eti.
Kegiatan rutin Sadila adalah kumpul setelah acara CDF dan Bazaar Amal di Taman Gajah.
Ada juga Kelas Isyarat setiap Sabtu di sekretariat di Jalan Tirtayasa Sukabumi tepatnya di kantor Sapta Consultant. Sadila juga kerap membagikan kegiatan di Instagram @sadila_sdl. (Tribunlampung.co.id/Debby Rizky)