IDI Minta Jaminan APD, Kalau Petugas Banyak Tumbang, Siapa Lagi yang Merawat Pasien

Misalnya daerah Jawa Timur, Daeng mendapat laporan adanya sembilan dokter dengan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang terinfeksi virus coro

Editor: Romi Rinando
AFP/STR iLUSTRASI:
Foto ini diambil pada Selasa (18/02/2020) Seorang dokter sedang menangani pasien yang telah pulih dari infeksi virus corona (COVID-19) menyumbangkan plasma di Wuhan di Hubei, China. Sebelumnya Pejabat kesehatan China pada 17 Februari kemarin mendesak pasien yang telah pulih dari coronavirus untuk menyumbangkan darah sehingga plasma dapat diekstraksi untuk mengobati orang lain yang sakit kritis. IDI minta keterbukaan soal dokter dan tenaga medis lainnya korban virus corona. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Keberadaan data tenaga kesehatan yang terinfeksi corona diperlukan guna menghindari penyebaran penyakit menular kepada pasien lain.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membandingkan keterbukaan informasi soal tenaga kesehatan yang terinfeksi virus corona (Covid-19) antara pemerintah pusat dengan Pemprov DKI Jakarta.

Ketua Umum IDI Daeng M Faqih mengaku, pihaknya tak pernah mendapatkan angka pasti jumlah tenaga kesehatan yang terinfeksi dari pemerintah pusat.

Sementara penanganan dan penganggulangan Covid-19 terpusat di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Kami tidak dapat dari pemerintah (pusat), hanya Pemprov DKI Jakarta yang mengumumkan 50 orang (dokter) terinfeksi Covid-19,” kata Daeng saat dihubungi Warta Kota pada Sabtu (28/3/2020).

Bantu Perangi Padndemi Corona, Klub Kaya Raya Manchester City Pinjamkan Stadion Etihad

Antisipasi Sebaran Virus Corona, Kodim 0421 Lampung Selatan Pasang Bilik Sterilisasi Corona

Laudya Cynthia Bella Buka Suara Mengenai Kasus Penggelapan Uang Perusahaan Rp 1,9 Miliar

Daeng mengatakan selain dari Pemprov DKI, pihaknya juga mendapat laporan dari teman sejawatnya di sejumlah daerah.

Misalnya daerah Jawa Timur, Daeng mendapat laporan adanya sembilan dokter dengan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang terinfeksi virus corona.

“Sejauh ini kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan BNPB, termasuk pada kesiapan APD (alat pelindung diri),” ujarnya.

Menurut dia, pada gelombang pertama pihaknya mendapatkan bantuan berupa 105.000 APD. Namun jumlah tersebut masih kurang untuk menjangkau pasien dengan virus corona. “Kami berharap untuk terus ditambah dan secara berkelanjutan ada distribusinya,” ucapnya.

Harus Dilengkapi APD

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) meminta kepada dokter dan perawat yang tanpa dilengkapi alat pelindung diri (APD) untuk tidak menangani pasien virus corona (Covid-19). Hal itu dilakukan demi melindungi dan menjaga keselamatan para tenaga kesehatan.

“Kalau petugas kesehatan nekat merawat pasien Covid-19 tanpa pakai APD, maka langsung tertular dan jadi sakit,” kata Ketua Umum IDI Daeng M Faqih saat dihubungi Warta Kota pada Sabtu (28/3/2020).

Daeng mengatakan, bila petugas kesehatan tersebut sakit, mereka justru tidak bisa menangani pasien lain. Bahkan mereka juga dapat menjadi beban perawatan bagi rekan sejawatnya yang juga menangani pasien lain.

“Kalau petugas kesehatan banyak yang tumbang, nanti siapa lagi yang akan merawat pasien yang semakin banyak,” ujar Daeng.

Karena itulah, Daeng mengimbau kepada para tenaga kesehatan untuk bijaksana menyikapi kondisi. Apabila dilengkapi APD, mereka diwajibkan menangani pasien.

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved