Ilmuan Jerman Racik Formula Antibodi Virus Corona, Siapkan 100 Ribu Orang untuk Dites
Mereka memerintahkan pembatalan semua acara publik, dan mengatakan pada ahli kesehatan bahwa 70% dari populasi bisa terinfeksi pandemi ini.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID - Hingga kini ilmuan di seluruh dunia berlomba-lomba' untuk mencari formula obat wabah virus corona yang kini telah menyebar hampir ke seluruh dunia.
Menurut Daily Express pada Senin (30/3/2020), negara Jerman saat ini tengah melakukan terobosan untuk mengatasai virus corona.
Para ilmuwan Jerman selama ini ternyata melakukan tes antibodi untuk mengetahui bagaimana orang-orang bisa sembuh dari penyakit ini.
Tim ilmuwan tersebut berencana menguji 100.000 orang pada suatu waktu untuk mengetahui bagaimana orang-orang yang sembuh membangun kekebalan.
Temuan ini kemudian akan membantu para ahli menilai bagaimana dan kapan pandemi ini akan berakhir.
• Pesisir Barat Isolasi Wilayah, Agus Istiqlal: Uang Bisa Dicari Nyawa Siapa yang Tanggung Jawab
• Imbas Corona, Jokowi Tetapkan Status Darurat Kesehatan Masyarakat
• 7 Siswa Calon Perwira Polri Positif Corona, Siswa Lain Dipulangkan ke Polda Masing-masing
Para peneliti menggunakan data untuk memberi tahu pemerintah kapan lockdown bisa dibuka kembali dan pertemuan massal akan diizinkan.
Lantas apa yang bisa diharapkan dari penelitian itu, bagaimana cara mengatasi pandemi tersebut dari penelitian itu?
Menurut laporan, produk dari penelitian ini adalah pengembangan antibodi, artinya manusia kelak diharapkan akan memiliki kekebalan untuk melawan virus ini.
Penelitian ini diawasi oleh Pusat Infeksi Helmholtz di Braunschweig.
Para peneliti akan melakukan tes darah selama beberapa minggu ke depan mencari antibodi yang di produksi dari pembawa penyakit ini.
"Mereka yang kebal kemudian dapat diberi sertifikat vaksinansi, memungkinkan mereka akan dibebaskan dari segala pembatasan seperti lockdown," kata ahli epidemiologi Gerarrd Krause.
Tes ini akan memberikan pandangan, berapa banyak orang Jerman yang terinfeksi virus corona dan disembuhkan.
Rencana ini terungkap setelah, Kanselir Jerman Angela Merkel berpendapat tentang pandemi itu.
Mereka memerintahkan pembatalan semua acara publik, dan mengatakan pada ahli kesehatan bahwa 70% dari populasi bisa terinfeksi pandemi ini.
Oleh karena itu mereka menyebut hanya perlu melakukan pelambatan penyebaran, sebelum rencana ini bisa terealisasi.