Kasus Corona di Lampung
Terdampak Covid-19, 90 Persen Bisnis Tour and Travel Tutup, ASITA Lampung: Harus Ada Stimulus
Sektor tour and travel menjadi salah satu bidang yang sangat terdampak di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.
Penulis: ahmad robi ulzikri | Editor: Noval Andriansyah
"Sumbangan yang diberikan pusat ke provinsi kadang salah kaprah."
"Pemerintah tidak sadar kalau pelaku pariwisata itu ada tour leader, pemandu wisata, kenek dan sopir bus pariwisata, karyawan, pedagang souvenir, pedagang asongan, tukang parkir, dan pelaku UMKM itu tidak dipikirkan," kritik Adi.
Menurut Adi, jika bidang pariwisata di Indonesia, khususnya di Lampung sudah berjalan baik, maka pemerintah tak perlu memusingkan para pelaku bisnis yang bergerak di sektor tersebut.
"Kalau pariwisata sudah jalan, pemerintah tidak perlu kasih stimulus, justru kami yang sumbang untuk devisa negara, dari pajak yang kami bayar dan dari orang-orang yang datang ke Lampung," sambung Adi.
Adi juga merekomendasikan beberapa stimulus yang dibutuhkan pelaku usaha perjalanan.
Mulai bantuan kepada karyawan hingga memberikan tunjangan bagi pelaku wisata.
Tujuannya, kata Adi, untuk sekedar bebersih tempat wisata yang sampai saat ini belum dirasakan.
"Skema stimulus yang kami rekomendasikan pertama memberikan bantuan kepada karyawan perusahaan, bukan perusahaannya," jelas Adi.
"Kedua, memberi pelatihan bahasa Inggris, tapi bukan seperti online, itu kan (pelatihan online) random tapi kami punya data beri pelatihan yang sifatnya aplikatif di lapangan untuk tour guide, setelah pelatihan hari itu juga dibayar peserta pelatihan," terang Adi.
"Kemudian, kasih kesempatan pelaku daerah tujuan wisata untuk bersih-bersih wisata, pada saat bersih-bersih, pemerintah memberi stimulus dengan gaji mereka, bukan hanya menyuruh bersih-bersih tapi tidak digaji," tandas Adi.
Tempat Wisata Tutup
Sebelumnya diberitakan, dampak dari penyebaran virus corona atau Covid-19, sejumlah objek wisata di Lampung mulai melakukan penutupan sementara seperti Tegal Mas dan Puncak Mas.
“Semua ditutup tegal mas, puncak mas, dan bukit mas sampai batas waktu yang ditentukan oleh pemerintah,” Kata Thomas Azis Riska selaku Owner Tegal Mas kepada Tribunlampung.co.id, Minggu (22/3/2020).
Menurutnya hal itu dilakukan untuk mendukung pemerintah dalam upaya menekan angka penyebaran covid-19.
“Karena kita enggak boleh mengangap enteng bencana nasional ini, jadi kami fikir harus patuhi apa imbauan pemerintah, mau bela negara, bangsa, ini saatnya di rumah saja. Saling mendoakan saja,” jelas Thomas.
Tegal Mas sendiri mulai dilakukan penutupan sementara sejak Kamis (19/2/2020) sedangkan Puncak Mas dan Bukit Mas akan mulai ditutup pada Senin (23/3/2020).