Tekuni Bisnis Dekorasi dan MUA, Lulusan UGM Asal Lampung Tengah Raup Omzet hingga Miliaran
Menekuni bisnis dekorasi dan make up artist (MUA), lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Lampung Tengah, raup omset ratusan juta di usia belia.
Penulis: sulis setia markhamah | Editor: Noval Andriansyah
Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Sulis Setia Markhamah
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Menekuni bisnis dekorasi dan make up artist (MUA), lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Lampung Tengah, raup omset ratusan juta di usia belia.
Tyas Ayu Upakartiningsih yang lahir di Bandar Jaya, Lampung Tengah sudah meraih omset Rp 500 juta di usia 24 tahun hingga mencapai miliaran rupiah di usia 27 tahun dari bisnis dekorasi dan MUA.
Bahkan, Tyas Ayu Upakartiningsih pernah meraup omset hingga Rp 2 miliar di tahun 2019.
Namun, perjalanan bisnis wanita yang akrab disapa Restya Ayu itu, tidak semulus yang dibayangkan.
Restya mengaku, pernah dihina dan sempat merasa minder karena keputusannya memulai bisnis dekor dan rias pengantin.
Baca juga: Owner Miezuno Bandar Lampung Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Ladang Rezeki, WFH Tingkatkan Omset
Baca juga: Setelah Jalur Tol, Kini Covid-19, Omset Pedagang di Jalur Lintas Ketapang -Bakauheni Makin Terpuruk
Berawal dari postingannya di media sosial Tiktok @restya_ayu, yang kini sudah ditonton 691,4 ribu kali, Restya membeberkan perjalanannya menjadi tukang dekor dan perias pengantin.
"Ketika aku dihina, lulus UGM kok milih jadi perias? Kok jadi tukang dekor? Padahal perjuanganku sampai di titik ini tidak mudah," tulis Tyas Ayu Upakartiningsih pada postingan yang viral itu.
Dalam video, sembari memperlihatkan deretan sertifikatnya dan mengungkapkan ragam prestasinya semasa sekolah dan kuliah, ibu dua anak ini juga menceritakan jika impiannya adalah menjadi duta besar.
"Sejujurnya setelah lulus kuliah aku sedikit merasa minder karena menjadi perias pengantin. Padahal impian aku yang sebenarnya adalah menjadi Dubes, bahkan aku sudah mendaftarkan diri kuliah S2 ke Queensland University Australia selepas lulus. Tapi Papa kurang setuju aku pergi S2 akhirnya aku memilih menikah dan memulai usaha dekorasi selepas menikah," tulisnya.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, istri dari Anang Resdiyadi ini membenarkan postingannya tersebut.
Dia menceritakan jika pengalaman semasa kuliah yang terbiasa nyambi kerja di WO (wedding organizer) dan kerap jadi panitia event internasional membuatnya biasa memanajemen acara dan berani mengambil keputusan membuka usaha dekorasi.
Awal mendekor sendiri diakuinya lantaran tidak menemukan WO saat sang kakak hendak menikah.
"Lepas kuliah pulang ke Bandar Jaya, pas 2016 kakak kandung aku mau nikahan kok nggak ada WO waktu itu, jadi aku nyoba dekor acara kakak dibantu WO dari Yogyakarta. Itu perdana dekor," jelas Restya yang pernah ikut pertukaran pelajar ke Thailand hingga internship di Rusia itu.
Tak hanya mendekor, putri pasangan Suripno dan Sulistyaningsih ini juga sekaligus berprofesi merias pengantin. Terlebih Restya memiliki bekal merias karena pernah mengikuti sekolah rias di Puspita Martha selama 3 bulan.
Bisnis dekor dan MUA dijalaninya sebatas di lingkup Lampung. Namun pasarnya sudah dikenal luas sehingga dirinya memiliki pendapatan cukup fantastis.
Bermula dari paket dekor dan make up dari Rp 15 jutaan, lalu menjadi Rp 20 jutaan, Rp 25 jutaan, dan kini Rp 27,5 hingga Rp 37,5 jutaan. Bahkan menjadi ratusan juta karena termasuk gedung.
"Pernah dapat paket Rp 300 juta itu temen yang order. Jadi jangan remehkan jaringan pertemanan, terus bangun relasi. Yang jadi klien aku rata-rata justru teman, adik tingkat, juga kakak tingkat aku," imbuhnya.
Jika omzet pertama membangun bisnis omzetnya sebulan Rp 15 jutaan, lalu naik Rp 60 juta, kini tembus Rp 2 miliar dalam setahun. "Sebulan minimal ada 5 paket. Tapi di 2020 ini pendapatan terganggu karena kondisi pandemi, pendapatan belum stabil karena banyak yang cancel acaranya," kata dia.
Namun diakuinya justru itulah tantangan menjadi pengusaha. Tidak melulu meraih omzet tinggi. Namun bagaimana tetap bisa survive di kondisi apapun.
"Jadi pengusaha ya seperti itu. Harus siap pendapatan tidak stabil, rugi hal biasa. Antisipasi harus selalu dipelajari," paparnya.
Darah bisnis sendiri Restya dapatkan dari orangtua dimana ayahnya merupakan Owner Glompong (produksi bakso dan memiliki rumah makan).
"Dari SD udah biasa jualan jepit rambut, karet rambut. SMA jualan jaket ngambil dari Bandung.
Kegigihan yang dilihat dari orangtua itulah yang membuatnya menjadi pribadi pantang menyerah. "Bapak aku itu awalnya dari gerobak dorong jualannya," kata dia.
Restya berpesan untuk siapapun yang ingin sukses adalah agar membuka jaringan pertemanan dengan siapapun. Lalu memiliki sifat jujur dan baik.
"Jadi kita mau jual apapun orang percaya karena kita dapat dipercaya, terus kerja keras dan humble. Kalau kita ramah orang pasti seneng. Bangun personal branding, termasuk di social media," tandasnya.
Suami Restya, Anang Resdiyadi mengatakan selalu mendukung setiap kegiatan istrinya.
Bahkan dirinya pernah menemani sang istri ketika hamil muda dan tengah belajar fashion di Islamic Fashion Institute Bandung sebagai wujud dukungannya.
"Saya akan mendukung setiap keputusan istri asalkan positif, tidak akan melarang yang terpenting jangan lupa sama keluarga dan anak-anak,” ujarnya.
(Tribunlampung.co.id/ Sulis Setia Markhamah)