Breaking News:

Lifestyle

Pandemi Covid-19 Tak Kunjung Usai, Banyak Orang Alami Depresi

Depresi adalah sebuah gangguan perasaan, dan moodnya mengalami penurunan.

Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Reny Fitriani
Shutterstock
Ilustrasi depresi - Pandemi Covid-19 Tak Kunjung Usai, Banyak Orang Alami Depresi 

Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Jelita Dini Kinanti

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDARLAMPUNG - Pandemi covid-19 yang tak kunjung usai hingga kini, ternyata telah membuat banyak orang mengalami depresi. 

Kaprodi Psikologi Universitas Malahayati Octa Reni Setiawati, S.Psi, M.Psi mengatakan, depresi disebabkan karena akibat pandemi covid-19 banyak orang yang terkena PHK, pemotongan gaji, bisnisnya tutup, dan sebagainya.

Ditambah lagi, harus sering berada di rumah dan segala aktivitas yang biasanya dilakukan di luar harus dilakukan di rumah agar tidak tertular covid-19, bisa membuat orang-orang semakin depresi. 

"Sebenarnya menurut WHO sudah sejak lama depresi dialami banyak orang. Namun sejak ada pandemi covid-19, jumlah orang yang mengalami depresi menjadi semakin banyak," ujar Octa Reni 

Octa Reni menjelaskan, depresi masuk dalam kategori gangguan jiwa.

Depresi adalah sebuah gangguan perasaan, dan moodnya mengalami penurunan.

Gejala orang yang mengalami depresi adalah kehilangan minat untuk melakukan aktivitas apapun, perasaannya sedih, dan melankolis.

Jika melihat orang yang mengalami depresi, dekati dia.

Saat mendekatinya jangan langsung menanyakan ke dia, kamu ada masalah ya, karena biasanya pertanyaan itu akan membuatnya tidak mau terbuka.

Tapi dekati dan temani dia.

Jangan biarkan dia sendirian.

Dengarkan apapun yang dia katakan atau ceritakan mengenai masalahnya hingga selesai.

Kalau masalah itu masih bisa diselesaikan, bantu dia menyelesaikan.

Tapi jika tidak, harus ke psikolog atau psikiater.

Kalau depresi dibiarkan, depresinya bisa menjadi berat.

Gejala depresi berat misalnya mulai mengalami kesulitan, tidak mau makan, tidak mau melakukan interaksi dengan siapapun, tidak mau bekerja, gampang lelah, maunya tidur terus, dan mengurung diri.

"Bahkan orang yang depresinya berat, bisa melakukan bunuh diri. Itu sebabnya kalau mendengar atau melihat kasus bunuh diri, kebanyakan karena depresi," kata Octa Reni.

Agar bunuh diri tidak terjadi, orang disekitarnya harus bisa melihat tingkah lakunya.

Misalnya dia sudah tidak ada lagi kemauan untuk hidup, ingin pergi, ingin menghilang, dan sebagainya.

Biasanya metode yang paling banyak dilakukan ketika bunuh diri adalah dengan memotong nadi, gantung diri, menyemprotkan baygon ke wajah.

Untuk itu sebaiknya jauhkan benda apapun yang bisa membuatnya bunuh diri.

"Lalu bawa ke psikiater, karena dia juga butuh pengobatan secara medis. Saya sendiri kalau menemukan ada yang mengalami depresi berat, apalagi sampai mengarah ingin bunuh diri, pasti saya minta ke psikiater dulu," kata Octa Reni.

Kalau dia sudah lebih tenang, dan kondisinya sudah baik-baik saja, baru bawa dia ke psikolog agar bisa dibantu mengelola mentalnya, merubah cara pandang dia dan cara dia menjalani hidup agar kualitas hidup dia menjadi lebih baik.

(Tribunlampung.co.id/Jelita Dini Kinanti)

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved