Bandar Lampung
Kisah Orang Tua di Lampung Rawat Anak Autis, 'Butuh Kesabaran Luar Biasa'
Kisah sejumlah orang tua di Lampung memiliki anak autis. Dengan kesabaran dan kasih sayang, anak-anak mereka bisa berkembang seperti anak lainnya.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Kisah sejumlah orang tua di Lampung memiliki anak autis.
Dengan kesabaran dan kasih sayang, anak-anak mereka bisa berkembang seperti anak lainnya bahkan ada yang berhasil kuliah di perguruan tinggi. Berikut cerita mereka.
Dianawati (52), warga Metro, memiliki seorang anak autis yang kini berusia 22 tahun. Sang anak diketahui autis sejak masih balita. Sejak saat itu Diana terus berjuang agar anak bisa tumbuh dan berkembang seperti anak umumnya.
Usaha Diana pun membuahkan hasil. Anaknya berhasil mandiri bahkan kini sudah kuliah di UPI Jurusan Ilmu Komputer Umum.
Sang anak yang bernama Irfan bahkan kuliah di UPI melalui jalur SBMPTN. Selama kuliah, Irfan selalu meraih IPK di atas 3 bahkan nilai TOEFL-nya hampir 600. Diana menceritakan perjuangannya merawat dan mendidik sang anak hingga saat ini.
"Saat pertama kali diketahui autis, Irfan sangat aktif, suka membenturkan kepala saat kesal atau marah, tidak ada kontak mata dan tidak mau sosialisasi," ceritanya kepada Tribun, Selasa (6/4/2021).
Mengetahui kondisi itu, Diana membawa sang anak ke rumah sakit di Jakarta. Selanjutnya sang anak menjalani terapi di rumah sakit Bandar Lampung.
Terapi itu dilakukan selama dua tahun. Selama itu, ia bersama anak bolak balik Metro-Bandar Lampung. Tak terhitung lagi biaya, waktu, tenaga serta pikiran yang terkuras selama itu. Setelah dua tahun terapi, Diana memutuskan menterapi sendiri sang anak.
Terapi itu seperti yang diberikan di rumah sakit. Sebab, ia telah memperhatikan selama sang anak mendapat terapi di RS. Ia juga mengajari anaknya untuk mandiri. Mulai dari makan sendiri, mandi sendiri, dan lainnya.
Agar mampu membaur dan sosialisasi, Diana pun memasukkan anaknya ke sekolah umum mulai dari TK, SMP, SMA bahkan kuliah di UPI. "Kini ia telah bisa bersosialisasi dan mandiri," tuturnya.
Cerita tak jauh berbeda diungkapkan Siti Nurul (43). Ia memiliki anak autis bernama Rahma yang kini berusia 10 tahun dan duduk di bangku SD. Nurul bercerita, pertama kali tahu anaknya autis saat usia Rahma 3 tahun. Saat itu anaknya asyik dengan dunianya sendiri, saat dipanggil tidak menoleh, dan memiliki kebiasaan menjejerkan barang.
Ia kemudian membawa sang anak ke psikolog. Oleh Psikolog anaknya dikatakan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Hal serupa dikatakan saat dirinya membawa Rahma ke dokter anak. Namun Nurul yakin anaknya bukan ADHD, melainkan autis.
Nurul kemudian mencari informasi mengenai dokter yang bisa menangani autis. Sayangnya saat itu belum ada dokter tersebut di Lampung. Ia lantas memutuskan membawa sang anak ke Jakarta. Di sana, dokter menyatakan bahwa sang anak benar autis.
Sejak saat itu, Rahma diberikan terapi. Terapi dilakukan selama 6 bulan. Ia juga mengirimkan 3 terapis untuk belajar terapi di Bekasi. Setelah 6 bulan, ia bersama anak dan 3 terapis pulang ke Bandar Lampung. Terapi selanjutnya dilakukan tiga terapis ini. Terapi diberikan selama 3 tahun.
Selain terapi, Nurul juga selalu mengajari sang anak untuk mandiri. Mulai dari mandi sendiri, makan sendiri, merapikan tempat tidur sendiri, dan sebagainya. Apa yang dilakukannya tidak sia-sia. Sang anak telah bisa melakukan hal-hal yang diajarkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/kisah-orang-tua-di-lampung-rawat-anak-autis-butuh-kesabaran-luar-biasa.jpg)