Breaking News:

UM Metro

Satrio Budi Wibowo UM Metro Jelaskan Bagaimana Mengukur Atribut Psikologis Seseorang

Banyak hal yang bisa kita ukur dari sesorang. Kita bisa mengukur tingginya, beratnya, kecerdasannya, minatnya atau atribut yang lain.

ist
Dr. Satrio Budi Wibowo, S.Psi., M.A. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Banyak hal yang bisa kita ukur dari sesorang. Kita bisa mengukur tingginya, beratnya, kecerdasannya, minatnya atau atribut yang lain.

Jika digolongkan, atribut yang bisa kita ukur dalam diri seseorang terdiri dari dua macam, atribut fisik dan atribut non fisik atau bisa disebut juga atribut psikologis. Berat badan, tinggi dan suhu tubuh seseorang masuk kedalam golongan atribut fisik.

Hal ini dikarenakan atribut tinggi, berat dan suhu telah memiliki satuan ukur yang baku. Kalo tinggi misalnya, memiliki satuan baku cm, meter dan seterusnya. Untuk mengukur atribut fisik ini, pengukur juga tidak perlu repot membuat alat pengukurnya.

Karena telah tersedia alat ukur yang baku. Misalnya untuk mengukur tinggi, kita dapat menggunakan alat ukur meteran.

Berbeda dengan atribut fisik, atribut psikologis tidak memiliki satuan ukur dan alat ukur yang baku. Ketika kita akan mengukur atribut psikologis seseorang maka kita perlu membuat alat ukurnya. Konstruksi alat ukur psikologis disusun berdasarkan konsep mengenai atribut yang akan diukur.

Misalnya kita akan mengukur kemampuan matematika siswa SD kelas 4. Maka kita perlu menyusun terlebih dahulu konsep matematika yang diajarkan pada siswa SD kelas 4 , kemudian menentukan domain pengukuran dari konsep matematika kelas 4 SD, menentukan indikator berdasarkan domain yang telah ditentukan, baru kemudian menyusun soal untuk memngukur kemampuan matematika subyek yang akan di tes.

Dalam mengukur atribut psikologis seseorang, pengukur dapat menggunakan dua metode pengukuran. Menggunakan tes atau non tes. Dua metode pengukuran ini sangat mudah sekali dibedakan.

Tes digunakan untuk mengukur peformansi maksimal subyek yang di tes. Dalam tes, jawaban subyek dinilai benar – salah. Jadi agar bisa menjawab soal dengan benar, subyek harus mengeluarkan sumber daya yang dimiliki semaksimal mungkin.

Contoh alat ukur yang menggunakan metode ini misalnya, tes IQ , tes Bakat, atau tes Ujian Sekolah.

Sedangkan non tes, mengukur peformansi tipikal subyek yang di tes. Sehingga jawabannya tidak dinilai benar – salah. Subyek cukup memilih jawaban yang sesuai dengan tipe dirinya. Mau jawab A, B atau C sah-sah saja.

Halaman
12
Penulis: Advertorial Tribun Lampung
Editor: Advertorial Tribun Lampung
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved