Metro

Petani Metro Akan Gropyokan Hama Tikus hingga Musim Panen

Gapoktan Hadi Makmur Hadimulyo Timur Metro Pusat terus menggerakan petani melakukan gropyokan hama tikus. saat ini populasi tikus mu;lai berkurang

Penulis: Indra Simanjuntak | Editor: Hanif Mustafa
Tribunlampung.co.id / Indra Simanjuntak
Gropyokan Gapoktan Hadi Makmur I berburu hama tikus malam hari, Gapoktan Hadi Makmur Hadimulyo Timur Metro Pusat terus menggerakan petani. 

Kemudian melakukan gropyokan yang disarankan oleh DKP3 Kota Metro seminggu dua kali hingga masa tanam berjalan. 

"Kita sudah lakukan dua kali. Minggu depan kita akan coba lagi ajak kawan-kawan petani. Mudah-mudahan bisa kita atasi," tuntasnya.

DKP3 Kota Metro Imbau Gropyokan

Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro mengimbau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat untuk mengadakan gropyokan hama tikus.

Kepala DKP3 Kota Metro Hery Wiratno mengatakan pihaknya telah menggerakkan sejumlah Gapoktan untuk melaksanakan gerakan pengendalian (gerdal) hama dengan cara gropyokan. 

Kata Hery Wiratno, kegiatan ini dilaksanakan untuk meminimalisir kerugian akibat hama tikus, karena hama tikus kini menjadi momok pada musim gadu tahun ini.

"Hama tikus saat ini sedang mewabah. Dan berpotensi menyebabkan gagal panen. Jadi, harus adanya pengendalian untuk mengusir dan meminimalisir," terangnya saat gropyokan bersama Gapoktan Usaha Maju dan Makmur di Margodadi, Kamis (10/6/2021).

Hery Wiratno mengimbau agar para petani Kota Metro juga meningkatkan kreativitas meski lahan terbatas.

"Kita beruntung, karena seperti Lampung Tengah atau Lampung Timur enggak semua dapat air. Boleh kita kalah lahan, tapi produktivitas dan kreativitas harus terus jalan," imbuhnya.

Sementara Kepala Pengendali Organisne Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kota Metro Slamet menilai pengendalian hama tikus bisa menyesuaikan kondisi di lapangan.

"Seperti di Margodadi ini sudah tepat melakuan gropyokan, karena lahan sawah belum ditanami padi," terangnya. 

Ia mengaku, ada beberapa metode pengendalian hama tikus selain gropyokan, yakni dengan memasang jebakan serta umpan beracun untuk meminimalisir perkembangan tikus. 

"Kalau sawah sudah ditanami padi, itu lain lagi. Lebih tepat pakai perangkap dan racun. Kalau gropyokan sudah pasti mendongkel pematang sawah, bisa mengakibatkan kerusakan," ucapnya.

"Tapi kalau sudah masuk masa tanam metode yang kita gunakan itu dibakar atau umpan beracun dan perangkap," imbuhnya.

Slamet menambahkan, untuk mengusir hama tikus juga bisa menggunakan urine hewan.

Seperti sapi, kambing dan kelinci, karena tikus tidak suka dengan bau urine yang sangat menyengat.

"Caranya dengan menyemprotkan ke seputar lubang dan padi. Terakhir bisa juga dengan memagari sawah, tapi ini ongkosnya yang mahal. Makanya rata-rata petani enggan," tuntasnya. ( Tribunlampung.co.id / Indra Simanjutak )

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved