Metro

Petani Metro Akan Gropyokan Hama Tikus hingga Musim Panen

Gapoktan Hadi Makmur Hadimulyo Timur Metro Pusat terus menggerakan petani melakukan gropyokan hama tikus. saat ini populasi tikus mu;lai berkurang

Penulis: Indra Simanjuntak | Editor: Hanif Mustafa
Tribunlampung.co.id / Indra Simanjuntak
Gropyokan Gapoktan Hadi Makmur I berburu hama tikus malam hari, Gapoktan Hadi Makmur Hadimulyo Timur Metro Pusat terus menggerakan petani. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, METRO - Gapoktan Hadi Makmur Hadimulyo Timur Metro Pusat mengaku akan terus menggerakan petani untuk gropyokan hama tikus hingga musim panen.

Ketua Gapoktan Hadi Makmur I Adi Atmoko mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan petani dalam gerakan pengendalian (Gerdal) hama tikus adalah gropyokan.

Bahkan, pihaknya telah melakukan pasca panen rendeng.

"Ini tindak lanjut dari apa yang telah kita lakukan. Kami memilih membasmi malam hari. Karena pergerakan tikus yang lambat akibat air yang memenuhi petak sawah dan di malam hari waktunya tikus mencari makan," bebernya, Kamis (10/6) malam.

Ia mengaku, saat ini populasi tikus di wilayahnya sudah mulai berkurang, karena setiap hari sekitar seratusan ekor bisa dibasmi.

"Waktu pengolahan lahan kemarin kita lebih banyak malah. Tak hanya tikus dewasa saja, cindil (anak tikus) juga kita dapat," imbuhnya. 

Baca juga: Gapoktan Metro Gropyokan Usir Hama Tikus

Ditambahkannya, Gapoktan Hadi Makmur I mengelola persawahan seluas 45 hektare dengan 91 anggota.

Hingga kini lahan sawah setempat masih bisa diharapkan untuk menghasilkan padi. Karena setiap hari petani memburu hama tikus.

Dua Karung Tikus

Gapoktan Usaha Maju Margodadi mengaku telah mendapat dua karung tikus dalam aksi gropyokan basmi hama di wilayah setempat.

Ketua Gapoktan Usaha Maju Sudibyono Seputro mengatakan, gerdal gropyokan lahan persawahan ini telah dua kali dilakukan petani setempat dan menghasilkan sekitar dua karung tikus.

Baca juga: Gapoktan Usaha Maju Margodadi Panen Dua Karung Tikus Seusai Gropyokan

"Lahan di kelompok saya itu kurang lebih 41 hektare dengan 80 anggota. Kalau setiap musim pasti ada yang terserang hama tikus, kalau musim kemarin tidak seberapa parah. Ada, tapi tidak banyak yang dimakan tikus," ujarnya, Kamis (10/6/2021).

Namun, pada musim gadu ini pihaknya belum bisa memastikan apakah hama tikus akan mewabah lagi, namun untuk meminimalisir hal tersebut pihaknya bergerak dengan menggelar gropyokan.

"Hama tikus kali ini ancaman bagi petani. Tahun ini memang kemungkinan lebih banyak dari tahun lalu. Karena ini masih persemaian saja sudah diserang, otomatis akan menjadi kendala pada masa tanam nanti," tukasnya. 

Ia menambahkan, setelah masa taman padi petani berencana akan memasang umpan beracun di masing-masing petakan sawah.

Kemudian melakukan gropyokan yang disarankan oleh DKP3 Kota Metro seminggu dua kali hingga masa tanam berjalan. 

"Kita sudah lakukan dua kali. Minggu depan kita akan coba lagi ajak kawan-kawan petani. Mudah-mudahan bisa kita atasi," tuntasnya.

DKP3 Kota Metro Imbau Gropyokan

Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Metro mengimbau Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat untuk mengadakan gropyokan hama tikus.

Kepala DKP3 Kota Metro Hery Wiratno mengatakan pihaknya telah menggerakkan sejumlah Gapoktan untuk melaksanakan gerakan pengendalian (gerdal) hama dengan cara gropyokan. 

Kata Hery Wiratno, kegiatan ini dilaksanakan untuk meminimalisir kerugian akibat hama tikus, karena hama tikus kini menjadi momok pada musim gadu tahun ini.

"Hama tikus saat ini sedang mewabah. Dan berpotensi menyebabkan gagal panen. Jadi, harus adanya pengendalian untuk mengusir dan meminimalisir," terangnya saat gropyokan bersama Gapoktan Usaha Maju dan Makmur di Margodadi, Kamis (10/6/2021).

Hery Wiratno mengimbau agar para petani Kota Metro juga meningkatkan kreativitas meski lahan terbatas.

"Kita beruntung, karena seperti Lampung Tengah atau Lampung Timur enggak semua dapat air. Boleh kita kalah lahan, tapi produktivitas dan kreativitas harus terus jalan," imbuhnya.

Sementara Kepala Pengendali Organisne Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kota Metro Slamet menilai pengendalian hama tikus bisa menyesuaikan kondisi di lapangan.

"Seperti di Margodadi ini sudah tepat melakuan gropyokan, karena lahan sawah belum ditanami padi," terangnya. 

Ia mengaku, ada beberapa metode pengendalian hama tikus selain gropyokan, yakni dengan memasang jebakan serta umpan beracun untuk meminimalisir perkembangan tikus. 

"Kalau sawah sudah ditanami padi, itu lain lagi. Lebih tepat pakai perangkap dan racun. Kalau gropyokan sudah pasti mendongkel pematang sawah, bisa mengakibatkan kerusakan," ucapnya.

"Tapi kalau sudah masuk masa tanam metode yang kita gunakan itu dibakar atau umpan beracun dan perangkap," imbuhnya.

Slamet menambahkan, untuk mengusir hama tikus juga bisa menggunakan urine hewan.

Seperti sapi, kambing dan kelinci, karena tikus tidak suka dengan bau urine yang sangat menyengat.

"Caranya dengan menyemprotkan ke seputar lubang dan padi. Terakhir bisa juga dengan memagari sawah, tapi ini ongkosnya yang mahal. Makanya rata-rata petani enggan," tuntasnya. ( Tribunlampung.co.id / Indra Simanjutak )

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved