Tanggamus

Buruh Tani Tanggamus Lampung Geluti Kerajinan Rotan di Tengah Sulitnya Pandemi Covid-19

Seorang buruh tani Pringsewu Lampung banting setri menjadi perajin rotan, ia tak menyerah dengan keadaan atas sulitnya pandemi Covid-19.

Penulis: Tri Yulianto | Editor: Hanif Mustafa
Tribunlampung.co.id / Tri Yulianto
Sumantri, dengan hasil keranjang rotan buatannya. ia tak menyerah dengan kondisi sulitnya ekonomi lantaran pandemi Covid-19. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TANGGAMUS - Pandemi Covid-19 tidak membuat segelintir orang menyerah dalam sulitnya perekonomian.

Satu di antaranya Sumantri, yang berfikir keras guna bertahan hidup di tengah beratnya cobaan pandemi Covid-19.

Akibat lesunya ekonomi di masa pandemi Covid-19, Sumantri yang seorang buruh tani tak mendapatkan pekerjaan.

Sumantri pun banting setir dari buruh tani menjadi seorang perajin rotan.

Warga Dusun Talang Aman, Pekon Umbul Buah, Kecamatan Kota Agung Timur Tanggamus ini pun mengaku menggunakan modal nekat untuk merintis usaha di tengah pandemi Covid-19.

"Pilihannya memang rotan karena masih jarang orang yang buat kerajinan rotan. Jadi biar beda usaha," kata Sumantri, Kamis (29/7/2021).

Sumantri pun lantas belajar secara otodidak melalui You Tube cara membuat kerajinan rotan.

Sebelumnya Sumantri sudah tahu tanaman rotan sehingga bisa mencari sendiri bahan baku tersebut.

Baca juga: Di Tanggamus Lampung Ada 25 Kasus Baru Covid-19, 1 Orang Meninggal Dunia

"Waktu belajar praktik itu empat kali gagal. Terus saya telateni lagi akhirnya bisa. Sudah bisa sekali seterusnya bisa," kata Sumantri yang mulai usaha sejak tiga bulan lalu.

Kini dirinya fokus untuk geluti kerajinan rotan, sedangkan buruh tani hanya sebagai sambilan, sebab kini hampir tiap hari selalu buat kerajinan rotan

Jenis barang yang dibuatnya masih sebatas keranjang dengan berbagai model dan ukuran.

"Sekarang masih keranjang dulu, kalau hiasan atau kursi-kursi belum sebab tidak ada rotan yang besar," terang pria 35 tahun ini. 

Untuk rotannya, dia cari di kebun-kebun sekitar Pekon Ketapang Kecamatan Limau. Di sana tanaman rotan tumbuh liar bersama semak belukar. Jenis rotan yang didapati adalah serimi, berbatang kecil yang mudah untuk anyaman.

"Kalau lamanya pembuatan paling cepat dua jam, kalau enam jam itu untuk keranjang besar," kata Sumantri.  

Ia mengaku tidak tentu membuatnya, kadang malam atau siang hari.

Namun setiap hari selalu buat. Dan dalam sepekan biasanya tujuh sampai delapan keranjang terbuat. 

Baca juga: Ada 25 Kasus Baru Covid-19 di Tanggamus, Meninggal 1 Orang

Sedangkan pemasaran, Sumantri memasarkan ke tetangganya sekitar dan disetorkan ke pengepul yang ada di Kecamatan Wonosobo. Dalam sepekan biasa setorkan delapan barang.

"Untuk harga, model kerajang kecil dijual Rp 35 ribu sedangkan keranjang besar Rp 100 ribu," tandasnya. ( Tribunlampung.co.id / Tri Yulianto )

Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved