Kesehatan
Halo Dokter, Cara Pengobatan Kanker Paru
Jika menjalani pengobatan ini, pasien kanker paru hanya minum obat dan tidak perlu lagi melakukan kemoterapi.
Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Daniel Tri Hardanto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Penderita kanker paru akan mendapatkan pengobatan oleh dokter sesuai dengan tingkat keparahannya.
Pengobatan itu meliputi operasi, kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi.
Ada juga pengobatan target terapi yang merupakan kemajuan pengobatan kanker.
Jika menjalani pengobatan ini, pasien kanker paru hanya minum obat dan tidak perlu lagi melakukan kemoterapi.
Baca juga: Halo Dokter, Apa Itu GERD dan Cara Mencegahnya
Tapi pengobatan ini sangat mahal.
Harga obatnya Rp 3 jutaan per butir.
"Paling berat kalau memberikan pengobatan untuk pasien kanker paru stadium empat. Karena yang mengobati pasien ini bukan hanya satu dokter, tapi satu tim, sehingga pasien merasa nyaman. Selain itu, pasien juga harus terus diberikan support," ujar dr Andreas Infianto MM SpP(K) FISR dari Rumah Sakit Advent Bandar Lampung, Jumat (22/10/2021).
dr Andreas Infianto mengatakan, kanker paru terjadi jika sel-sel paru berubah menjadi ganas.
Baca juga: Halo Dokter, Cara Mengobati dan Mencegah GERD
Namun berubahnya tidak terjadi seketika.
Penyebab kanker paru karena sering menggunakan insektisida untuk membunuh serangga atau pestisida untuk membunuh hama tanpa menggunakan pengaman.
Kemudian bekerja di pertambangan, batu bara, asbes, atau di tempat yang ada bahan kimia.
Selain itu kanker paru bisa disebabkan karena menjadi seorang perokok.
Perokok yang paling berisiko mengalami kanker paru adalah perokok kedua atau orang yang menghirup asap rokok langsung sekaligus menghirup embusan asap rokok dari mulut perokok pertama (orang yang memiliki kebiasaan merokok).
Sedangkan perokok ketiga adalah perokok yang menghirup kandungan asap rokok yang menempel pada pakaian atau tubuh perokok pertama.
"Selain itu, kanker paru juga bisa disebabkan penyebaran dari kanker lain. Seperti kanker payudara, kanker tulang, dan sebagainya. Ini disebut sebagai kanker paru sekunder," kata dokter yang juga praktik di RSUD Ahmad Yani Metro dan RSU Muhammadiyah Metro ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/dr-andreas-infianto.jpg)