Bandar Lampung
Lampung Sudah Membaik, Pertambahan Kasus Covid-19 hanya Satu Digit
Pertambahan kasus Covid-19 terus melandai, bahkan dalam dua hari terakhir sudah satu digit atau di bawah 10 kasus.
Di China, akibat klaster dari turis, penerbangan jadi banyak yang dibatalkan kembali.
Setidaknya sembilan provinsi mencatatkan kasus baru dalam jumlah yang tak sedikit.
Di Inggris, kasus virus corona mencapai 43.324 dalam sehari yakni pada 19 Oktober lalu.
Alasan lonjakan terjadi karena kegiatan masyarakat sudah benar-benar dilonggarkan.
Sementara di Rusia, ada penambahan lebih dari seribu kasus baru dalam sehari.
Jumlah kematian pun lebih dari seribu kasus dalam sehari tepatnya pada 19 Oktober lalu sehingga pembatasan kegiatan diterapkan kembali.
Menurut Nadia, di negara-negara itu cakupan vaksinasinya sudah lebih dari 70 persen.
Namun ketika dilakukan pelonggaran protokol kesehatan, lalu muncul varian baru, tetap terjadi peningkatan kasus.
"Gelombang ketiga adalah sesuatu yang niscaya atau pasti terjadi. Karena apa? Negara yang sudah mengalami gelombang ketiga memiliki cakupan vaksinasi yang tinggi, memiliki tingkat prokes yang sudah baik seperti di Inggris, AS, prokesnya lebih relaksasi. Mereka sudah enggak pakai masker di tempat terbuka, jaga jarak sudah tak ada. Sementara cakupan vaksinasi 70 persen. Tapi begitu ada varian Delta mereka struggling meski kematian rendah," imbuhnya.
Apalagi peningkatan mobilitas diprediksi bakal terjadi di libur Natal dan Tahun Baru.
Di saat yang sama selalu ada potensi peningkatan kasus.
Oleh karena biasanya relaksasi aktivitas sosial termasuk ibadah dan ekonomi akan berdampak ke kesadaran masyarakat untuk patuh protokol kesehatan.
Lantas seberapa genting situasi gelombang ketiga nanti?
Menurut Nadia mutasi virus SARS-CoV-2 bisa memberikan kontribusi besar pada kenaikan kasus covid-19 di Indonesia.
Kendati demikian, Nadia belum bisa memastikan seberapa tinggi lonjakan kasus Covid-19 pada gelombang tiga.
Dia hanya menyatakan bahwa pemerintah berupaya untuk mengantisipasi lonjakan.
Nadia menjelaskan, angka kasus pada gelombang ketiga bisa ditekan apabila vaksinasi semakin luas. Kesadaran masyarakat tentunya juga harus dijaga.
"Seberapa besar yang terjadi di Desember 2021 atau Januari 2022. Beberapa ahli membuat modelling. Ada yang menyebut kondisinya bisa sama di 2020/2021, bisa sedikit meningkat, atau bahkan lebih tinggi dari Juni. Itu tidak inginkan, situasi yang mencekam sekali. Apa yang kita bisa lakukan? Balancing vaksinasi, testing yang cepat untuk dapat kasus positif dipisahkan dari kasus negatif," ungkapnya.
Oleh karena itu, Nadia meminta masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan meski sudah divaksinasi lengkap.
Ia mengatakan, seluruh masyarakat harus tetap waspada sambil menunggu cakupan vaksinasi menjangkau 208 juta target sasaran.
"Nanti ada kondisi tersebut, barulah mungkin kita akan bisa betul-betul full relaksasi tetapi tetap waspada," ucap Nadia.
(tribun network/ais/dod/byu)