Universitas Terbaik Sumatera
Dr Mukhtar Hadi UM Metro Jelaskan Makna Menjaga Marwah Diri
Beberapa orang pengemis dan gelandangan tertangkap tangan oleh petugas ketertiban dan keamanan kota dalam sebuah razia.
Penulis: Advertorial Tribun Lampung | Editor: Advertorial Tribun Lampung
Yang pertama ada orang yang dengan senagaja menjatuhkan kehormatan dirinya dan yang kedua ada orang yang menjatuhkan kehormatan orang lain untuk kehormatan dirinya.
Di dalam Islam dua perilaku tersebut sama-sama tidak diperbolehkan karena perilaku tersebut telah merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan.
Merendahkan kehormatan diri dan kehormatan orang lain.
Padahal Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan manusia. Islam memandang pentingnya manjaga kehormatan diri maupun kehormatan orang lain.
Ajaran yang memerintahkan untuk menjaga kehormatan manusia itu dinamakan Muru’ah.
Istilah ini kemudian sering disamakan maknanya dengan kata Marwah dalam Bahasa Indonesia.
Muru’ah secara bahasa bermakna kehormatan dan harga diri.
Sedangkan dari segi istilah, muru’ah adalah salah satu akhlak islami yang dapat mengantarkan seseorang untuk memiliki jiwa yang bersih dan tidak terkungkung dan di perbudak oleh nafsu syahwatnya, karena karakter seorang muslim mempunyai cita cita (himmah) yang tinggi dan sangat tidak suka pada sesuatu yang buruk, rendah dan hina.
Islam mengajarkan kepada manusia untuk menghindarikan diri dari sifat kehinaan kepada diri sendiri. Sifat kehinaan itu bisa bersumber dari perilaku merendahkan harkat dan martabat diri dan merendahkan orang lain.
Kehinaan diri bisa juga bersumber dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukan dan akhlak tidak terpuji yang diperbuatnya.
Oleh sebab itu, menjaga kehormatan diri (menjaga marwah) itu bisa dilakukan dengan menghindari perilaku dosa dan maksiat serta menghindarkan diri dari akhlak yang tercela.
Sebagaimana ditunjukkan oleh sifat muru’ah Rasulullah Saw, yang tergambar dalam perjalanan hdiupnya. Pada saat Rasulullah masih remaja, Allah telah memelihara dan melindungi beliau dari sifaf-sifat kotor kaum jahiliyah.
Hal itu karena Allah menghendaki beliau menjadi orang terhormat, dan kelak akan diangkat sebagai Rasul-Nya.
Beliau memang hidup di tengah-tengah agama kaumnya, tetapi Allah kemudian mengangkatnya sebagai sosok yang memiliki sifat muru’ah paling tinggi di antara mereka, memiliki akhlak paling sempurna, paling baik pergaulannya, paling baik sikapnya terhadap tetangganya, paling jujur perkataannya, paling besar sifat amanahnya dan paling jauh dari sifat keji dan hina.
Dalam sebuah Hadits yang bersumber dari Abu Hurairah r.a Rasulullah Saw bersabda, “Kemuliaan orang mukmin ada pada agamanya, kehormatannya ada pada akalnya, sedangkan keutamaannya ada pada akhlaknya”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/DSFXG.jpg)