Lampung Selatan
Melongok Masjid Tertua di Lampung Selatan, Masjid Jami Nurul Huda Ada Makam Ulama Pertama di Lamsel
Kalau berkunjung ke Lampung Selatan, jangan lupa untuk berwisata religi ke salah satu masjid tertua di Lampung Selatan yakni Masjid Jami Nurul Huda.
Penulis: Dominius Desmantri Barus | Editor: Teguh Prasetyo
Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Kalau berkunjung ke Lampung Selatan, jangan lupa untuk berwisata religi ke salah satu masjid tertua di Lampung Selatan yakni Masjid Jami Nurul Huda.
Masjid Jami Nurul Huda berlokasi di Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan.
Di dalam masjid tersebut juga terdapat makam ulama pertama di Lampung Selatan yakni Al Habib Ali Bin Alwi Al Idrus.
Juru kunci dan pengurus Masjid Jami Nurul Huda Jamiin mengatakan, sebelum menjadi masjid, ini awalnya surau.
"Awalnya ini surau. Lalu setelah dibangun ulang, kini menjadi masjid," kata Jamiin, pada Senin (11/4/2022).
Menurut Jamiin, perkiraan Masjid Jami Nurul Huda ini dibangun sebelum Indonesia merdeka.
"Awalnya alas ini masih semen. Atapnya masih pakai bambu-bambu. Alhamdulilah setelah ada swadaya masyarakat, kita bisa membangun masjid ini," katanya.
"Pembangunan masjid ini di zaman nenek kami. Sampai turun ke kami. Kalau sampai ke saya ini, berarti sudah generasi ketiga," terangnya.
Baca juga: Masjid Jami Al-Yaqin, Masjid Tertua dan Bersejarah di Bandar Lampung
Masjid Jami Nurul Huda biasa dikunjungi penziarah untuk berwisata religi di bulan-bulan suci, seperti bulan Ramdan, Muharam, Djulhijah, untuk mengenal lebih dalam bangunan masjid tersebut dan tokoh Habib Ali Bin Alwi Al Idrus.
Di dalam masjid tersebut terdapat makam Habib Ali Bin Alwi Al Idrus dan dua santrinya.
Kata Jamiin, menurut cerita turun temurun konon Habib kita ini keturunan ke-35 Nabi Muhammad SAW.
"Habib Ali bin Alwi ini merupakan tokoh agama islam karena ikut membantu menyebarkan agama islam di wilayah Bakauheni dan pengikutnya pun sudah banyak," katanya.
Namun Habib Ali Bin Alwi Al Idrus ini meninggal dunia.
Konon menurut cerita turun temurun yang disampaikan oleh Jamiin, Habib meninggal saat Gunung Krakatau meletus ditahun 1883.
"Kalau dari cerita yang disampaikan dari nenenk kami. Habib meninggal saat Gunung Krakatau meletus. Terjadi tsunami besar yang menenggelamkan sebagian daratan di Lampung Selatan. Habib tersebut masih berada di dalam masjid bersama dua santrinya," katanya.