Berita Lampung
Kisah Haru Kakek Penjual Tape di Bandar Lampung, Jualannya Sering Tak Laku
Seorang kakek penjual tape singkong tampak menjajakan dagangannya, Senin (27/6/2022). Ia jualan di sekitaran Kedamaian, Bandar Lampung.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Kiki Novilia
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Seorang kakek penjual tape singkong tampak menjajakan dagangannya, Senin (27/6/2022).
Dagangan kakek penjual tape singkong itu setiap hari mulai dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
Adapun area kakek penjual tape singkong di sekitaran Kedamaian, Bandar Lampung.
Ketika ditanya keuntungannya berjualan, sang kakek bercerita kerap tidak balik modal.
"Sekarang ini lagi susah, malah justru sering berjualan modal saja tidak keluar," ujarnya sedih.
Baca juga: Breaking News Polisi Aman Pelaku Curanmor saat Patroli di Sepang Jaya Bandar Lampung
Baca juga: Hari Pertama PPDB SMA dan SMK di Bandar Lampung Berjalan Lancar
"Modal saya membuat tape mulai dari membeli singkong dan bahan lainnya untuk memenuhi bakul mencapai Rp 100 ribu lebih," imbuhnya.
Kakek tersebut menjual tape dengan harga Rp 10 ribu satu porsinya.
"Satu porsi atau satu plastik saya jual Rp 10 ribu, ketika tidak habis ya saya bawa pulang, seperti hari ini belum ada pembeli yang singgah," tuturnya lembut.
Lebih lanjut ia menceritakan awal mula belajar membuat tape ketika kakek itu masih muda.
"Awal mula dulu saya belajar masih mengunakan bahasa sunda, dan belajarnya disaat saya masih kecil," ungkapnya.
"Beranjak dewasa saya sempat kerja sebagai kuli bangunan dan juga pernah berjualan bakso, berjalannya waktu saya memulai berjualan tape, ya lumayan untuk kebutuhan dapur," ucap dia.
Jualan Kemplang
Baca juga: Dua Pelajar Kecelakaan di Bandar Lampung, Satu Meninggal Dunia
Baca juga: Karyawan Koperasi Menyerahkan Diri Usai Tikam Nasabah di Bandar Lampung
Cerita pilu mengiringi perjalanan hidup seorang pedagang kemplang tunanetra yang setiap hari menjelajahi wilayah Tanggamus, Lampung.
Nama sang pedagang kemplang tunanetra itu adalah Agus Wahyudi.
Dalam kesehariannya, pedagang kemplang tunanetra tersebut berjalan kaki hingga puluhan kilometer sembari menggendong wadahnya.
Tertulis di wadah tersebut 'Perhatian! Untuk pengendara roda dua dan roda empat, harap hati-hati! Depan anda tunanetra menjual: kemplang; kerupuk Rp 6.000 per bungkus'.
Tulisan itu bukanlah sebagai upayanya untuk menarik simpati orang, melainkan sebagai peringatan bagi para pengendara untuk berhati-hati saat hendak melewati atau berpapasan dengannya.
Tatkala ditemui di Jalan Lintas Barat (Jalinbar) Sumatera Kecamatan Talang Padang, terlihat banyak warga yang menyerbu dagangannya.
Acapkali, beberapa warga terlihat membeli kemplang dan kerupuknya lebih dari satu bungkus.
Terdengar dari percakapan mereka yang menilai jika kerupuk dan kemplang dagangannya Agus terasa nikmat.
Warga Kecamatan Pagelaran, Pringsewu itu bercerita, wilayah Tanggamus menjadi lokasi yang sudah biasa ia jelajahi dalam menawarkan dagangannya.
Keceriaan di raut wajah Agus saat diwawancara, seolah mengisyaratkan hubungannya yang tak lekat dengan keluhan.
"Tadi berangkat jalan kaki jam 7, tapi beda-beda tempat. Tadi pagi di Kota Agung, terus ke Gisting, dan ini sampai Talang Padang," cerita Agus Wahyudi, Sabtu (25/6/2022) sore.
Kendati ia berjalan kaki dalam menjual kemplang dan kerupuk, bukan berarti Agus juga berjalan kaki dari rumahnya yang berlokasi di Kecamatan Pagelaran menuju Tanggamus.
Ia diantarkan oleh keponakannya menggunakan sepeda motor dari Kecamatan Pagelaran, Pringsewu menuju Kabupaten Tanggamus.
Setibanya di Kabupaten Tanggamus, Agus pun diturunkan di Kecamatan Kota Agung.
Kecamatan Kota Agung menjadi titik awal perjalanannya menjajakan makanan ringan itu.
"Berangkatnya, tadi dianterin pake motor sama keponakan, terus ditinggalin. Saya keliling jualannya ke Gisting, Talang Padang, dan tadi juga ke Kota Agung," kisah Agus.
Kemplang dan kerupuk yang ia jual, didapatkannya dari produsen di wilayah Teluk Betung, Bandar Lampung.
"Kerupuk kemplangnya beli Rp 4.500 itu ngambil sendiri di Teluk Betung. Jualnya Rp 6.000," kata pria berkulit sawo matang itu.
Agus mengaku, tiap harinya, selalu ada saja yang membeli barang dagangannya.
120 bungkus kemplang dan kerupuk yang ia bawa hari ini pun, sudah hampir ludes terjual.
"Alhamdulillah, bawanya 120 bungkus, sudah mau habis. Ini sudah sore, pulang di jemput di jalan sama keponakan saya, kan nanti dia liat saya," tuturnya.
Sembari menunggu keponakannya menjemput, ayah dua orang anak itu mengisahkan, dirinya pernah menjadi pengamen.
"Sebelumnya, kerjanya jadi musisi, ranger keyboard. Kadang ngamen di panggung, kadang ngamen di pasar," kata dia.
Hal itu ia lakukan kala penglihatannya masih normal.
Kebutaan yang ia derita bukanlah cacat bawaan lahir, melainkan akibat terserang penyakit glukoma beberapa tahun silam.
"Bukan bawaan lahir, tetapi karena penyakit glukoma, sehingga total gak bisa lihat," tuturnya.
"Kalau berobat, sudah kemana-mana, Jakarta, Bandung, Yogyakarta," sebut Agus.
Apesnya, hingga saat ini, belum ada obat yang benar-benar ampuh untuk dapat menyembuhkan penyakit glukoma.
"Karena, glukoma bukan hanya di Indonesia, mancanegara juga belum ada obatnya," ungkap Agus.
Belum ditemukan obatnya, tak lantas membuat Agus putus asa.
Harapan tetap ia gantungkan demi meraih kesembuhan dan kehidupan yang lebih baik.
Ada keluarga kecil yang masih membutuhkan kehadirannya sebagai sosok kepala keluarga, suami, dan ayah.
Satu di antara pembeli dagangannya bernama Fatimah terketuk hatinya saat menyaksikan perjuangan Agus dalam mencari sesuap nasi lewat media sosial Facebook.
Perjuangan Agus sempat viral di Kabupaten Tanggamus lantaran seorang pengguna Facebook yang memosting video Agus saat menjajakan dagangannya.
"Oom ini kan, sudah trending di Facebook," kata Fatimah seraya menikmati kemplang yang dibelinya.
Fatimah menilai, kemplang yang dijual Agus Wahyudi terasa enak dan renyah.
"Kemplangnya enak, renyah. Saya sering beli, tadi pagi juga lewat saya beli," tutupnya.
Barangkali, sebuah adagium yang berbunyi 'harum menghilangkan bau' amat sesuai disematkan pada kisah Agus ini.
Melalui kisahnya, Agus seakan menampar manusia normal tanpa cacat yang bermalas-malasan dalam mencari sesuap nasi.
Dewasa ini, cukup banyak ditemui orang-orang yang kondisi fisiknya lebih baik dari Agus, tetapi hidup hanya dengan berpangku tangan.
Mereka hanya mengharapkan uluran tangan orang lain, tanpa mau berusaha.
Tak sedikit pula yang mencari jalan lain dalam mengais rezeki dengan melakukan tindakan kriminal.
Ada pula yang justru memilih untuk mengakhiri hidupnya lantaran putus asa akibat tekanan hidup yang begitu berat.
Agus, pria penderita penyakit glukoma yang harus merelakan penglihatannya menghilang, justru memilih untuk tidak berpangku tangan.
Ia terus bekerja dengan giat guna memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya.
( Tribunlampung.co.id / Riyo Pratama / Nanda Yustizar Ramdani )