Bisnis

Ancaman Stagflasi Semakin Nyata, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Kondisi stagflasi juga berpotensi terjadi di Indonesia jika stagflasi dialami oleh mitra dagang utama Tanah Air, seperti China dan Amerika Serikat.

Editor: muhammadazhim
KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
ilustrasi. Saat ini perekonomian Indonesia terancam stagflasi. Hal tersebut ditandai dengan makin meningkatnya pengangguran, pertumbuhan ekonomi melambat, tetapi terjadi kenaikan harga dan inflasi. 

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Perekonomian dunia tengah dibayang-bayangi oleh risiko stagflasi yang serius.

Ini merupakan imbas dari tidak berkesudahannya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina serta pandemi Covid-19 yang masih melanda berbagai negara.

Stagflasi adalah kondisi pada sebuah periode inflasi yang dikombinasikan dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB).

Fenomena ini bisa ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah dan angka pengangguran yang tinggi.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan, kondisi stagflasi juga berpotensi terjadi di Indonesia jika stagflasi dialami oleh mitra dagang utama Tanah Air, seperti China dan Amerika Serikat.

"Diperkirakan bila stagflasi terjadi, maka aliran ekspor dan investasi Indonesia akan cenderung terhambat di tangah proses pemulihan pasca pandemi," ujar dia kepada Kompas.com, Kamis (14/7/2022).

Josua menilai potensi stagflasi di Indonesia sebenarnya masih relatif rendah meskipun realisasi inflasi terus merangkak naik.

Baca juga: Ustadz Dasad Latif Akan Ceramah di Mesuji, Masyarakat Diimbau Bawa Kantong Plastik

Sebab indikator konsumen Indonesia masih terjaga seiring dengan komitmen pemerintah menjaga harga berbagai jenis komoditas.

Dampak stagflasi

Namun demikian, risiko stagflasi tetap ada.

Pasalnya harga berbagai komoditas melonjak, imbas dari terganggunya rantai pasok global saat ini.

Josua mengatakan jika memang terjadi, stagflasi akan berimbas kepada daya beli masyarakat.

Ini disebabkan oleh lonjakan inflasi dan konsumsi masyarakat yang justru menurun seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

"Penurunan daya beli masayarakat kemudian mendorong perlambatan pengeluaran konsumen secara global," kata Josua.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved