Berita Lampung

BBM Mahal dan Langka Buat Nelayan di Tulangbawang Lampung Ogah Melaut

Nelayan Kampung Sungai Burung Kecamatan Dente Teladas, Tulangbawang terpaksa menghentikan lajur perahu yang menjadi alat mencari nafkah

Editor: soni
Tribun Lampung/Candra Wijaya
Perahu para nelayan Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas, Tulangbawang terpaksa memberhentikan aktivitas pasca tinggi dan langkanya BBM jenis solar di wilayah setempat. 

Tribunlampung.co.id, Tulangbawang - Nelayan Kampung Sungai Burung Kecamatan Dente Teladas, Tulangbawang terpaksa menghentikan lajur perahu yang menjadi senjata atau alat dalam mencari nafkah setiap harinya.

Hal itu terpaksa dilakukan nelayan di wilayah setempat akibat tingginya harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya minyak jenis solar yang kini kian mencekik.

Selain harga tinggi, pasokan minyak yang sedikit juga menjadi faktor utama sejumlah nelayan tidak bisa melaut.

Akhirnya, ratusan nelayan di Kecamatan Dente Teladas terpaksa harus menghentikan kegiatan aktivitas melaut mereka, walau musim tangkap sudah dimulai.

Mashuri Sekertaris Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas menuturkan, kondisi masyarakat yang berada di wilayah setempat, sudah tidak lagi melaut pasca kenaikan BBM jenis solar.

"Akibat BBM mahal dan sulit didapat, khususnya jenis solar masyarakat di Kampung Sungai Burung, kini sudah tidak melaut," jelasnya, Rabu (14/9/2022).

Dirinya menjelaskan, pada bulan Mei 2022 lalu, meskipun terjadi kelangkaan pada BBM, para nelayan di wilayah setempat masih memperoleh minyak dengan harga murah berkisar Rp 6.500 ribu sampai Rp 7 ribu perliter.

"Walaupun cukup jarang mendapatkan pengiriman dari SPBU, para nelayan masih dapat melaut walaupun tidak setiap hari," bebernya.

Baca juga: Nelayan di Pesawaran Harap Bantuan Pemerintah Atasi Kelangkaan BBM di Wilayah Pesisir

Baca juga: Polres Lampung Tengah Minta Masyarakat Sesuaikan Biaya Hidup Hadapi Kenaikan Harga BBM

Namun kini, pasca kenaikan BBM jenis solar, para nelayan bila membeli secara eceran di Kampung Sungai Burung bisa mencapai Rp 11000 hingga 12000 liter.

"Walau sudah mahal, nelayan juga tidak mudah untuk mendapatkan solar tersebut akibat minimnya pasokan," ujarnya.

Bahkan Mashuri menuturkan, keluhan ini sudah terasa sebelum adanya kenaikan BBM bersubsidi jenis solar tersebut, tepatnya sejak bulan Mei 2022 lalu.

Hal ini disebabkan akibat kelangkaan atau sulitnya BBM jenis solar di wilayah mereka.

"Sebelum naiknya harga BBM, nelayan Kampung Sungai Burung juga sudah banyak yang tidak melaut, hal ini dikarenakan sulitnya memperoleh BBM jenis Solar," keluhnya.

Menurutnya, saat itu pasokan solar di wilayah setempat cukup tersedia dikarenakan para nelayan mendapatkan pasok BBM, yang di peroleh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved