Tempat Wisata di Lampung
Tempat Wisata di Lampung, Bongkahan Batu Tapak di Pesisir Barat
Selain sepasang telapak kaki manusia, di atas batu itu juga terdapat cetakan telapak kaki hewan, seperti rusa dan monyet.
Tribunlampung.co.id, Pesisir Barat - Tak hanya pantainya yang eksotis, Pesisir Barat juga menyimpan potensi lain sebagai tempat wisata di Lampung.
Salah satu yang bisa dijadikan tujuan tempat wisata di Lampung adalah legenda batu tapak yang ada di Pekon Way Sindi Hanuan, Kecamatan Karya Penggawa, Pesisir Barat.
Sebagai salah satu tempat wisata di Lampung, batu tapak di Pesisir Barat merupakan sebuah bongkahan batu yang berukuran cukup besar.
Dimana terdapat cetakan sepasang telapak kaki manusia di tengahnya.
Selain sepasang telapak kaki manusia, di atas batu itu juga terdapat cetakan telapak kaki hewan, seperti rusa dan monyet.
Baca juga: Rizky Billar Talak Satu dan Tak Sesali Cekik hingga Banting Lesti Kejora
Baca juga: Fakta Perselingkuhan di Balik Gugatan Cerai Wendy Walters kepada Reza Arap
Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, telapak kaki itu merupakan milik Syeh Muhamad Ngambihi.
Syeh Muhamad Ngambihi merupakan seorang ulama yang pertama kali menyebarkan agama Islam di wilayah tersebut.
" Syeh Muhamad Ngambihi ini merupakan ulama yang pertama kesini untuk menyebarkan ajaran Islam," Ucap Merah Bangsawan, tokoh adat setempat sekaligus keturunan ke-17 dari Syeh Muhamad Ngambihi. Senin (5/9/2022).
Merah Bangsawan menceritakan, keberadaan batu tapak tidak terlepas dari cerita rakyat tentang legenda tragedi penyembelihan Putri Sindi.
Legenda tentang penyembelihan Putri Sindi merupakan sejarah asal usul berdirinya Kerajaan Marga Way Sindi.
Mengenai usia batu tapak ini diperkirakan sudah berumur selama ribuan tahun.
Namun kata Merah, sejak kapan keberadaan batu tapak itu ada tidak ada catatan pasti.
Baca juga: Mirip Kopi Joni, Aspri Hotman Paris Buka Pendampingan Hukum Gratis di Lampung
Baca juga: Rizky Billar Tak Menyesal Banting Istrinya, Tapi Sesali Lesti Kejora Lapor KDRT
Sebab cerita mengenai batu tapak ini hanya dituturkan dari generasi ke generasi secara turun temurun.
Diceritakan oleh Merah, pada zaman peradaban manusia belum berkembang dan belum mempunyai susunan adat, serta kepercayaan masyarakat pada saat itu kebanyakan masih berpaham animisme.
Masyarakat setempat melakukan musyawarah pada waktu itu untuk mendirikan adat (marga atau kerajaan).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Batu-tapak-Pesisir-Barat-Lampung.jpg)