Berita Lampung
Ikan Mati di Keramba Danau Ranau Lampung Barat Bertambah, Kerugian Capai Rp 1 Miliar
Sejak sepekan lalu sampai saat ini total kematian ikan di keramba Danau Ranau Pekon Kagungan, Kecamatan Lumbok Seminung, Lampung Barat capai 40 ton.
Penulis: Bobby Zoel Saputra | Editor: Tri Yulianto
Tribunlampung.co.id, Lampung Barat - Ikan yang mati dalam keramba di Danau Ranau Pekon Kagungan, Kecamatan Lumbok Seminung, Lampung Barat terus bertambah, Kamis (12/1/2023).
Sejak awal kejadian, sepekan lalu sampai saat ini total kematian ikan di keramba Danau Ranau Pekon Kagungan, Kecamatan Lumbok Seminung, Lampung Barat mencapai 30-40 ton.
Kini para pembudiaya ikan keramba di Danau Ranau Pekon Kagungan, Kecamatan Lumbok Seminung minta Pemkab Lampung Barat bantu mengatasi dampak kematian puluhan ikan tersebut.
Hal itu disampaikan langsung oleh Reza Fahlevi, salah satu pembudidaya ikan keramba di Pekon Kagungan, Kecamatan Lumbok Seminung, Lampung Barat yang terdampak.
“Hari ini ikan yang mati milik beberapa petani kerambah di daerah sini bertambah banyak,” kata Reza.
“Tentunya jumlahnya pun bertambah dari kejadian sebelumnya, saat ini bisa diperkirakan yang mati itu sekitar 30-40 ton ikan,” terusnya.
Baca juga: Dinas PUPR Lampung Barat Perbaiki Jalan Rusak Tugu Ratu-Suka Marga, Suoh Tahun Ini
Baca juga: Masyarakat Sambut Baik Rencana Perbaikan Jalan Pagar Dewa-Lumbok Seminung Lampung Barat
Reza melanjutkan, dari jumlah total kematian ikan-ikan tersebut, kerugian yang dialami oleh para pebudidaya keramba pun bertambah.
Jika dikonversikan menjadi rupiah, total kerugian yang diterima oleh para petani kerambah menjadi Rp 1 miliar lebih.
“Untuk saat ini, kerugian yang dialami pun bertambah dan diperkirakan menjadi Rp 1 miliar lebih,” tutur Reza.
“Karena untuk 1 kg ikannya kan di sini harganya sekitar Rp 25 ribu, jadi kemungkinan diangka segitu,” sambungnya.
Sementara itu, Haryadi Kelvin Anarki selaku Ketua Usaha Keluarga Bersama (UKB) Pekon Kagungan berharap, pihak bank sebagai pihak yang memberikan pinjaman untuk modal diharap bisa mengerti keadaan para pembudidaya ikan
Sebab menurutnya, beberapa petani di wilayah tersebut banyak yang memakai modal dari perbankan.
“Harapannya untuk pihak bank bisa mengerti dengan keadaan petani kerambah di sini yang terdampak,” harap Haryadi.
“Karena kebanyakan modal petani kerambah rata-rata menggunakan modal dari bank,” tambahnya.
Kemudian, lanjut Haryadi, biasanya fenomena ini paling sebentar terjadi 1 hingga 2 hari, namun paling lama bisa berminggu-minggu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Ikan-di-keramba-Danau-Ranau-yang-mati.jpg)