Berita Lampung

Omzet Pedagang Asongan Lampung Tengah Meningkat saat Arus Mudik dan Arus Balik Lebaran

Hari raya Idul Fitri 1444 H memberi berkah bagi sejumlah pedagang kaki lima dan pedagang asongan di Lampung Tengah.

Tayang:
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: soni
Tribun Lampung/ Fajar Ihwani Sidiq
Rais dan rekan sesama pedagang asongan sedang menunggu bus berhenti di depan Masjid Istiqlal Bandar Jaya, Lampung Tengah. 

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Hari raya Idul Fitri 1444 H memberi berkah bagi sejumlah pedagang kaki lima dan pedagang asongan di Lampung Tengah.

Berkat adanya aktivitas arus mudik dan arus balik Lebaran yang menggunakan fasilitas angkutan umum meningkatkan omzet pebisnis kecil atau pedagang asongan di Lampung Tengah hingga Rp 1 juta per hari.

Hal itu diungkapkan Rais selaku pedagang asongan asal Bandar Jaya yang telah menggeluti bidang usaha ini selama 3 tahun.

Dirinya mengatakan, pendapatannya meningkat sejak H-3 hari raya Idul Fitri.

Peningkatan omzet itu dipengaruhi jumlah penumpang pada kendaraan umum jalur darat khususnya bus antar kota antar provinsi.

"Pendapatan kami (pedagang asongan) meningkat sejak banyaknya pemudik, sudah dirasakan saat menjelang Lebaran," ujarnya kepada Tribunlampung.co.id, Jumat (28/4/2023) di depan Masjid Istiqlal Bandar Jaya, Lampung Tengah.

Rais mengaku, omzet yang diperoleh saat momen mudik Lebaran mencapai Rp 900 ribu sampai Rp 1 juta per hari, sementara omzet saat hari biasa Rp 300 ribu per hari.

Puncak omzet Rais dirasakan dari H-2 hingga H+2 Lebaran.

Barang dagangan yang dijual di antaranya siomay, kacang, tahu, kripik, air mineral, risol, telur puyuh, dan lainnya.

Semua barang dagangan yang dijual Rais serba Rp 5 ribu.

Rais mengatakan, cara dia menjual dagangan dengan menaiki bus dan menjajakannya kepada penumpang.

Baca juga: Pedagang Asongan di Tulangbawang Diciduk Polisi Karena Bawa Sabu 0,21 Gram

Dengan membawa rak jinjing, aneka makanan dan minuman digantung dan dipanggul sambil berjalan.

"Awalnya saya naik bus dari Bandar Jaya, kemudian berpindah bus seputar Terbanggi Besar, Gotong Royong, Wates, terus berulang hingga kembali ke Bandar Jaya," katanya.

Menurutnya, pekerjaan yang ditekuninya tidak mematok jam, yang menjadi patokan adalah dagangan dan kendaraan bus.

Jadi dalam satu hari, Rais harus memastikan dagangannya harus habis.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved