Kantor MUI Ditembak

Bupati Dendi Ramadhona Sebut Pelaku Mustopa Pernah Berbuat Onar

Dendi Ramadhona menyebut pelaku penembakan di kantor MUI Jakarta Pusat, Mustopa (60) pernah berbuat onar dan minta diakui sebagai nabi.

Penulis: Oky Indra Jaya | Editor: taryono
(Tribunlampung.co.id/Oky Indra Jaya)
Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona menyebut pelaku penembakan di kantor MUI Jakarta Pusat, Mustopa (60) pernah berbuat onar dan minta diakui sebagai nabi. 

Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona menyebut pelaku penembakan di kantor MUI Jakarta Pusat, Mustopa (60) pernah berbuat onar dan minta diakui sebagai nabi.

Hal tersebut disampaikan Dendi Ramadhona saat diwawancarai wartawan pada Selasa (2/5/2023).

Dendi mengatakan, dirinya mendapatkan informasi terkait seorang warga asal Desa Sukajaya, Kecamatan Way Khilau yang bernama Mustopa (60) menjadi pelaku penembakan.

“Ya, tadi sudah mendapatkan informasi terkait kebenarannya dari Humas Polda Lampung, dan benar merupakan warga Pesawaran,” ucap Dendi.

"Pelaku tersebut diinformasi menerobos masuk untuk bertemu pimpinan MUI dan minta diakui sebagai nabi,” imbuhnya.

Dendi mengatakan, pelaku Mustopa menurut keterangan desa dan kecamatan, merupakan orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Bahkan pada tahun 2016, pelaku pernah melakukan aksi teror dengan memecahkan kaca gedung DPRD Provinsi Lampung.

Dendi Minta Lapor Bila Menemukan Doktrin dan Ajaran Sesat

Bupati Pesawaran, Dendi Ramadhona mengatakan, terkait adanya peristiwa yang menyangku ke arah radikalisme dirinya minta agar terpantau.

Hal itu merupakan tugas dari seluruh masyarakat bersama, bahkan dari tokoh agama serta pemerintahan dari atas hingga bawah.

Sehingga, ini menjadi tindakan preventif agar ajaran sesat dan radikalisme tidak berkembang di Kabupaten Pesawaran.

Apabila berkembang secara pesat tentu ajaran dan tindakan radikalisme menjadi bom waktu.

Sebab, dengan berkaca dari peristiwa menyangkut dugaan radikalisme tersebut pemerintah bersama TNI-Polri bersama menuntaskan hal tersebut dengan pencegahan-pencegahan.

Di samping itu pun tokoh adat, tokoh agama dan peran serta masyarakat dibutuhkan agar tak ada aliran sesat yang menjadi bumerang di masyarakat Pesawaran.

(Tribunlampung.co.id/Oky Indra Jaya)

 

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved