Lampung Bangkit

Kereta Babaranjang Lewat, Kota Balam Macet, Begini Opsi yang Ditawarkan Caleg DPR RI Hantoni Hasan

Hantoni Hasan pernah menyampaikan bersama sejawatnya sesama anggota DPRD Provinsi Lampung periode 2009-2019 kepada PT Bukit Asam dan PJKA.

|
Penulis: Endra Zulkarnain | Editor: Endra Zulkarnain
Dokumentasi Tribunlampung.co.id
Caleg DPR RI dapil Lampung I Hantoni Hasan (kiri) saat berbincang di studio Tribun Lampung beberapa waktu lalu. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG- Persoalan kemacetan di jalan raya yang di latari melintasnya Kereta Api Batu Bara Rangkaian Panjang (Babaranjang) sudah menjadi persoalan klasik yang dirasakan masyarakat Kota Bandar Lampung.

Caleg DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hantoni Hasan menuturkan, dirinya pernah menawarkan solusi untuk mengatasi kemacetan yang disebabkan melintasnya kereta Babaranjang yang membelah Kota Bandar Lampung saat jam-jam sibuk.

Tapi sejauh ini belum ada langkah konkret dari ‘penerus kebijakan’ untuk mengatasi kemacetan yang setiap hari di rasakan masyarakat Bandar Lampung yang disebabkan kereta Babaranjang.

Solusi itu, kata Hantoni Hasan, pernah disampaikan bersama sejawatnya sesama anggota DPRD Provinsi Lampung periode 2009-2019 kepada PT Bukit Asam dan PJKA.

“Soal kereta api babaranjang saat masih duduk di DPRD Lampung kami sudah pernah diskusikan dan menyampaikan saran ke PT Bukit Asam. Karena mereka yang punya barang yang mesti di delivery (pengiriman batu bara),” ungkap Hantoni Hasan kepada Tribunlampung.co.id, Sabtu (10/2/2024).

“Kalau kereta penumpang kan nggak jadi persoalan karena PJKA bisa menyesuaikan. Tapi kalau Babaranjang ini terkait dengan PJKA dan PT Bukit Asam,” sambung mantan Ketua Komisi II DPRD Lampung Fraksi PKS periode 2009-2019 ini.

Kala itu, Caleg DPR RI Dapil Lampung I nomor urut empat ini mengutarakan, ada beberapa opsi yang pernah diusulkan ke PT Bukit Asam.

Baca juga: Usung Tagline Lampung Bangkit, Begini Kiprah dan Gagasan Caleg DPR RI Hantoni Hasan

Baca juga: Bonus Demografi 2045, Caleg DPR RI Hantoni Hasan Ingin SDM di Lampung Diperkuat ke Sektor Pertanian

Pertama, ditawarkan solusi untuk memindahkan jalur rel kereta api Babaranjang ke pinggiran agar tidak membelah kota.

“Tapi opsi ini mereka (Bukit Asam) keberatan, karena setelah di estimasi memerlukan biaya yang sangat mahal. Dan ini lebih dulu ada rel kereta api baru Kota ini berkembang,” papar Hantoni Hasan.

Lantaran mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk memindahkan jalur kereta api yang membelah Kota Bandar Lampung, lalu di usulkan opsi kedua agar PT Bukit Asam mengatur jadwal pengiriman batu bara ke Lampung.

Terutama di jam-jam sibuk baik pagi maupun sore hari saat warga Bandar Lampung berangkat dan pulang dari beraktifitas.

Pengusung tagline Lampung Bangkit ini mengutarakan, pada periode 2009-2019 saat itu DPRD Lampung memberikan opsi kedua agar PT Bukit Asam mengatur ulang jadwal pengiriman batu bara menggunakan kereta Babaranjang.

“Jadi saat jam padat di pagi maupun sore hari kita minta supaya tidak melintas. Sebenarnya saat itu mereka menyepakati soal pengaturan jadwal ini,” kata Hantoni Hasan.

Namun apakah opsi yang ditawarkan saat itu sudah berjalan dan atau masih berjalan atau tidak masyarakatlah yang merasakannya.

Hantoni Hasan juga mengatakan, saat itu pernah juga diusulkan semacam kompensasi soal kebisingan yang disalurkan dalam bentuk CSR ke Pemkot Bandar Lampung.

Sehingga masyarakat yang bermukim di sepanjang perlintasan rel bisa di berdayakan.

“Saya kira poin-poin itu yang mestinya di monitor kembali oleh pihak berwenang sekarang khususnya DPRD dan Pemkot,” kata Hantoni Hasan.

“Saya kira itu solusi sementara tapi bermanfaat selain nanti ada solusi permanen dengan memindahkan jalur rel Babaranjang,” tandas Hantoni.

Siapakah Hantoni Hasan dan bagaimana kiprahnya dalam dunia politik di Lampung?

Hantoni Hasan yang berdarah Pagar Dewa, Kabupaten Tulangbawang Barat ini lahir pada 23 Mei 1959 di Menggala, Kabupaten Tulangbawang.

Di masa kanak-kanaknya, Caleg DPR RI dari PKS nomor urut 4 ini menamatkan sekolah dasarnya di MIN 1 Menggala. Lalu melanjutkan pendidikan di SMPN Menggala hingga tamat.

Setelahnya, Hantoni Hasan lalu hijrah ke Bandar Lampung dan menamatkan sekolah menengah atas di SMAN Way Halim.

Lalu melanjutkan Pendidikan tinggi tingkat Sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Hantoni Hasan lalu meraih gelar magister Universitas Terbuka. Dan saat ini, pengusung tagline Lampung Bangkit ini tengah menempuh Pendidikan S3 program Doktor di FISIP Universitas Lampung.

Kiprah Politik Hantoni

Di politik praktis, Hantoni Hasan tercatat pernah menjabat Wakil Ketua DPW Partai Keadilan (cikal bakal PKS) Lampung periode 1998-2000.

Hantoni juga pernah menjabat Ketua DPD PKS Bandar Lampung periode  2000-2005. Di Lembaga legislatif, Hantoni Hasan pernah duduk di DPRD Kota Bandar Lampung periode 2004-2009.

Periode selanjutnya, Hantoni Hasan naik tingkat duduk di DPRD Lampung periode 2009-2019.

Di struktur PKS Lampung, Hantoni Hasan pernah menjabat Ketua MPW PKS Lampung periode 2015-2020. Dan saat ini, Hantoni menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar PKS Lampung sejak 2022 hingga sekarang.

Sebagai Caleg DPR RI, Hantoni Hasan mempunyai segudang ide dan gagasan untuk membangun Lampung kedepan.

Dalam beberapa kali kesempatan, Hantoni Hasan kerap melontarkan beberapa konsep ide dan gagasan untuk kepentingan kemajuan Lampung ke depan.

Berikut konsep ide, dan gagasan Hantoni Hasan untuk membangun Lampung yang dirangkum Tribunlampung.co.id.

Bangun Pabrik Pupuk

Hantoni bercita-cita membangun pabrik pupuk dengan membentuk BUMD milik Pemprov Lampung yang khusus menangani pupuk subsidi.

"Ini salah satu program saya, membangun pabrik pupupk milik BUMD Pemprov Lampung. Yang tugasnya adalah memenuhi kebutuhan pupuk petani," beber Hantoni.

Dengan begitu, dia berharap kedepan tidak ada lagi isitilah petani sulit mendapat pupuk di wilayah Lampung karena ulah permainan tengkulak.

"Itu baru konkret, tidak putar sana putar sini, pake kartu ini pake kartu itulah. Nggak ketemu ujungnya," ujarnya.

Lebih jauh Hantoni mengutarakan, memenuhi sarana prasarana pertanian Lampung yang didalamnya terdapat pupuk dan obat-obatan pertanian menjadi sebuah keniscayaan.

"Sarana prasarana produksi harus dipenuhi, seperti ketersediaan pupuk dan obat-obatan pertanian yang murah namun berkualitas baik. Juga dilakukan pembinaan secara kontinyu kepada petani, sehingga produksi dan kualitas produksi bisa terjamin," ungkap Hantoni Hasan.

Sebab dia memandang, selain persoalan pupuk yang langka dan mahal, selama ini petani tidak juga kurang mendapat pembinaan secara kontinyu.

Wisata Gastronomi

Hantoni Hasan bakal mengembangkan wisata gastronomi yang bernafaskan kearifan lokal di Provinsi Lampung.

Wisata gastronomi erat kaitannya dengan tata boga atau lebih familier dengan istilah wisata kuliner.

Namun dalam konteks ini, Hantoni Hasan menilai, wisata gastronomi bukan hanya menyajikan wisata makanan atau kuliner saja.

Namun juga dikolaborasikan dengan unsur-unsur sosial budaya dimana makanan tersebut menjadi identitas kelokalan daerah khususnya Lampung.

“Gastronomi tidak sekedar mencicipi makanan dan minuman seperti berwisata kuliner, tapi juga punya keinginan kuat untuk mengetahui asal sejarah, sisi budaya atau filosofi makanan dan minuman tersebut,” ungkap Hantoni Hasan beberapa waktu lalu.

“Misalnya Lampung, ada makanan khas masyarakat lokal yang namanya seruit. Nah, orang jangan hanya tahu nama seruit saja, tapi juga mesti tahu filosofi seruit, apa saja kandungan yang ada didalamnya,” sambung Hantoni Hasan.

Untuk mengenalkan apa itu makanan khas Lampung khususnya bagi masyarakat luar Lampung, pengusung tagline ‘Lampung Bangkit’ ini ingin agar wisata gastronomi bisa dipadukan dengan tempat-tempat wisata di Lampung.

Baik itu wisata pantai maupun wisata alam yang saat ini mulai menjamur di beberapa wilayah di Lampung.

"Daerah Lampung sangat kaya dengan wisata, akan lebih baik potensi alam yang indah ini dipadu dengan wisata gastronomi. Bagaimana kedepan kita membuat konsep itu," papar mantan Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung Fraksi PKS ini.

Lanjutkan Kota Baru

Hantoni Hasan bertekat akan kembali melanjutkan pengembangan wilayah Kota Baru Lampung.

Hantoni menilai, pembangunan Kota Baru wajib dilanjutkan lantaran wilayah itu merupakan bagian dari pengembangan wilayah kota Bandar Lampung khususnya ibu kota Provinsi.

Hantoni Hasan menuturkan, pusat-pusat pengembangan wilayah semacam Kota Baru memang harus dibuat dan disiapkan sejak dini untuk mengurai kepadatan penduduk di Kota Bandar Lampung.

Dia menilai banyak dampak positif dari pengembangan Kota Baru. Diantaranya dari sisi pertumbuhan ekonomi.

Dia mencontohkan disekitar wilayah Kota Baru saat ini sudah ada kampus ITERA, yang saban tahun ribuan mahasiswa berkumpul disitu.

Ditambah lagi, keberadaan Polda Lampung yang juga sudah ada dikawasan pengembangan Kota Baru.

"Ketika itu berkembang otomatis kan akan ada mobilisasi masyarakat ke wilayah itu. Sehingga nanti Kota Bandar Lampung ini akan tertata, kemacetan yang terjadi saat ini akan terurai," papar Hantoni kepada Tribunlampung.co.id beberapa waktu lalu.

Jika dilihat dari aspek pertumbuhan ekonomi, keberadaan kota baru penting karena sebagai pusat pertumbuhan baru.

Dan tidak kalah penting, Hantoni menyebut jika wilayah Kota Baru ini juga menjadi penyambung akses masyarakat dari Kabupaten Lampung Timur, Lampung Tengah, Kota Metro, Lampung Selatan, dan Kota Bandar Lampung.

Sehingga secara otomatis jika wilayah ini berkembang maka akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru masyarakat.

"Jadi apapun resikonya, harus kita lanjut (pengembangan kota baru). Kan sayang infrastruktur yang sudah terbangun disana," tegas mantan Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung Fraksi PKS ini.

Hantoni mengatakan, selama kepala daerah tidak main-main maka tidak akan ada masalah yang muncul.

Karena itu, Hantoni Hasan bertekat akan melanjutkan pembangunan Kota Baru sebagai bagian rencananya membangun Lampung. 

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/endra zulkarnain)


 

 

 

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved