Pilkada Jakarta

Takut Terjadi 'Jokowi Jilid II', PDIP Dinilai Tak Akan Usung Anies di Pilkada Jakarta

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) dinilai tak akan mengusung Anies Baswedan di Pilkada Jakarta 2024 lantaran takut dikhianati.

|
Tribunnews.com/IST
Mantan Gubernur Banten, Rano Karno, saat berjumpa mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, di DPP PDI-P, Senin (26/5/2024). Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) dinilai tak akan mengusung Anies Baswedan di Pilkada Jakarta 2024 lantaran takut dikhianati. 

"Kemarin memang Pak Pramono dipanggil Ibu (Megawati) dan diminta untuk mencalonkan, calon gubernur DKI, itu saja," ujar Bendahara Umum PDIP, Olly Dondokambey pada Selasa (27/8/2024).

Olly juga menyebut bahwa Pramono sudah menyetujui perintah dari Megawati itu untuk maju sebagai cagub di Pilkada Jakarta.

"Pak Pramono berkoordinasi dengan beberapa orang, sehingga ternyata dia jadi bersedia, itu saja," jelasnya.

Bagaimana dengan Ahokers Jika PDIP Mengusung Anies?

Wakil Sekretaris Jenderal PDIP, Adian Napitupulu menyampaikan bahwa pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) alias Ahokers mengaku siap menerima dan mendukung semua keputusan Megawati untuk Pilkada Jakarta 2024.

Hal itu disampaikan Adian saat menerima aspirasi dari massa yang tergabung dalam aliansi Demi Anak Generasi (DAG) yang mengatasnamakan Ahokers.

Mereka menyampaikan aspirasi di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (25/8/2024) dengan beratributkan kemeja kotak-kotak dan baju berwarna merah.

Awalnya, Ahokers meminta Megawati mengusung Ahok menjadi calon gubernur Jakarta 2024.

Namun, Adian menceritakan bahwa DPP PDIP belum memutuskan untuk mendukung Ahok atau tokoh-tokoh lain untuk maju dalam Pilkada Jakarta.

“Ke mana (dukungan) PDIP, prediksinya? Saya tidak mau pakai prediksi-prediksian, tapi percayalah di gedung itu (kantor DPP PDI-P) semua kita bicarakan, percaya saja."

"Kita berbicara tentang calon A, B, dan sebagainya," kata Adian dalam keterangannya yang diterima Kompas.com, Senin.

"Tapi kita organisasi, partai politik. Organisasi mau berjalan dengan baik harus punya pimpinan."

"Dan sebagai kader partai, kita harus ikuti arahan pimpinan. Bisa dipahami, Ibu-Bapak?" tanya Adian disambut jawaban bisa oleh para Ahokers.

Adian mengatakan, perbedaan pendapat dalam mendukung suatu calon di sebuah kontestasi merupakan hal yang biasa terjadi.

Namun, Adian menyampaikan bahwa nantinya keputusan Megawati harus dipegang teguh oleh seluruh kader, termasuk Ahokers.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved