Berita Terkini Nasional

Kisah Warga di Desa Perbatasan RI-Malaysia di Kaltara, Bila Ada yang Sakit Harus Ditandu Bersama

Desa Wa’Yagung di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi potret buram kondisi perbatasan RI–Malaysia.

Tayang:
Editor: Teguh Prasetyo
Dok Rian Antoni
TANDU WARGA - Warga Desa Wa Yagung di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kaltara, menandu warga yang sakit melewati belasan kilometer dan belasan jam naik turun gunung. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, KALTARA - Desa Wa’Yagung di dataran tinggi Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi potret buram kondisi perbatasan RI–Malaysia.

Desa yang tercatat dalam administratif Kecamatan Krayan Timur ini merupakan salah satu desa terisolasi yang berada di tengah hutan dan berjarak sekitar 16 km dari ibu kota Kecamatan Krayan Timur.

Untuk menuju ke Desa Wa’Yagung, masyarakat akan menempuh jalanan tanah liat yang akan menjelma menjadi lumpur saat hujan.

Mereka harus menyusuri jalan setapak di hutan, menerobos banyak tanaman hutan yang daunnya dipenuhi lintah.

Bagi warga setempat, mereka punya cara sendiri agar lintah-lintah tersebut tidak menempel di badan dan menyedot darah mereka.

Namun, bagi pendatang, badan mereka akan dipenuhi lintah daun yang menggemuk ketika melewati jalan setapak, masuk Desa Wa’Yagung.

‘’Sekarang ada jalan yang dibuka pemerintah, tapi baru separuh. Cuma sampai Long Umung, itu masih sekitar 12 km lagi menuju desa kami Wa’Yagung,’’ ujar salah satu tokoh masyarakat adat Wa’Yagung, Rian Antoni, saat ditemui, Selasa (7/1/2024).

Jalan yang dibuka pemerintah juga hanya sebatas pembukaan jalan dan masih jauh dari kata layak.

Masyarakat Desa Wa’Yagung masih bermimpi memiliki akses jalan layak untuk membantu perekonomian mereka.

Masyarakat ingin anak-anak mereka bisa pulang pergi sekolah tanpa harus khawatir terpeleset di jembatan saat hujan.

Selain itu, mereka juga ingin merasakan listrik dan juga jaringan internet, seperti masyarakat di desa lainnya.

‘’Masyarakat kami kesulitan menjual hasil panen. Buah-buahan membusuk begitu saja karena susahnya akses keluar. Sederhana saja permintaan kami, mohon berikan kami akses jalan yang layak,’’ ujarnya lagi.

Dan untuk menuju Wa’Yagung, pengunjung harus melewati akses satu satunya, termasuk Jembatan Wa’Yagung yang ada di Long Umung.

Rian mengatakan, kondisi jembatan gantung dengan panjang sekitar 70 meter ini menjadi akses penghubung satu-satunya Wa’Yagung ke Desa Bungayan dan wilayah lain.

Namun saat ini kondisinya sudah lapuk dan mengancam nyawa.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved