Mudik Lebaran

Suka Duka Porter di Bakauheni, Dimarah karena Tas Putus dan Hanya Bawa Uang Rp 70 Ribu ke Rumah  

Pemudik di Pelabuhan Bakauheni tercatat berjumlah sekitar 277.379 orang yang telah menggunakan moda tranportasi kapal laut

Penulis: Bayu Saputra | Editor: soni yuntavia
Tribunlampung.co.id / Bayu Saputra 
BAWA KOPER - Porter Pelabuhan Bakauheni Agung Bakti saat membawa dua koper milik penumpang yang ingin pergi ke Pulau Jawa, Jumat (28/3/2025). 

Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Pemudik di Pelabuhan Bakauheni tercatat berjumlah sekitar 277.379 orang yang telah menggunakan moda tranportasi kapal laut dari Sumatera ke Pulau Jawa. 

Pantauan Tribunlampung.co.id, di tempat pemberhentian mobil yang akan pergi ke Pulau Jawa, Jumat (28/3/2025) telah ramai penumpang.

Pramubarang atau porter dipastikan kebanjiran rezeki dari penumpang yang ingin menggunakan jasa angkut tersebut. 

Seorang pria bertopi dan berkumis mengaku bernama Agung Bakti, semringah saat mengangkat dua koper penumpang. 

Artinya rezeki akan mengalir kepadanya karena penumpang bakal menggunakan jasanya. 

Dua koper milik penumpang kapal tersebut diangkat untuk diantar ke kapal yang akan berlayar ke Pulau Jawa. 

Agung mengenakan pakaian serba merah dengan rompi biru dongker bertuliskan namanya dan porter 07 di bagian dada kanannya.

Pada bagian punggung Agung Bakti tertulis "Terminal Eksekutif Pelabuhan Bakauheni."  Saat itu Agung sedang membopong koper seberat 70 kg . 

Suami beranak tiga ini mengatakan, seragam ini  tidak bisa dipakai sembarangan karena untuk menjadi porter harus mendapatkan izin dari ASDP. 

Kepada Tribunlampung.co.id, Agung menceritakan suka dukanya. 

"Kalau suka duka banyak Mas, tentunya dukanya saat tas milik penumpang yang saya bawa itu putus. Sudah pasti saya dimarahi dan saya terima saja," kata Agung. 

Ada juga penumpang yang baik, yang  memberikannya makan hingga memberi uang tips tambahan. 

Duka lainnya, pernah dia hanya membawa uang Rp 70 ribu ke rumah karena sepinya penumpang.

"Saat mudik Alhamdulillah berkat kerja keras, teman-teman mendapat Rp 300 ribu- Rp 400 ribu, saat arus mudik dan arus balik. Sore sudah pulang ke rumah," kata Agung. 

"Pernah suatu hari mengangkut barang paling berat 500 kg dengan upah Rp 150 ribu- Rp 200 ribu. Tapi ini tergantung orangnya karena hanya hati yang memberi," kata Agung. 

Dirinya juga tidak pernah memaksa penumpang untuk mengupahnya. 

"Tadi saya kasih Rp 80 ribu dengan berat beban yang diangkut 70 kg," kata Agung. 

Selama menggeluti pekerjaan ini dia rutin menjaga stamina. "Karena badan capek seminggu sekali minum obat agar badan tetap prima," ujarnya.

Ia juga bercerita bila dia sedang capek tetap harus berhenti dan tidak memaksakan diri. 

"Ada 10 kali mengangkut barang penumpang. Karena kapal eksekutif setiap 1 jam kapal sandar, sementara kapal reguler 2 jam sekali," kata Agung. 

Dirinya mengaku baru 3 tahun bergabung menjadi Porter menggantikan pamannya yang meninggal.

"Adanya lebaran memberi rezeki bagi kami, hari biasa hanya Rp 80 ribu- Rp100 ribu. Kemudian paling banyak itu setengah hari hanya Rp 300 ribu. Kemudian sore ini saya dapat Rp 150 ribu, jadi kalau totalnya saya dapat Rp 450 ribu," kata pria asli Banten ini. 

Dia berharap pada malam takbiran akan banyak orang yang menggunakan jasanya.

"Tahun sebelumnya saat malam takbiran saya dapat Rp 700 Ribu, kalau teman saya pernah mendapat Rp 2 juta-Rp 5 juta," kata Agung. 

Porter Pelabuhan Bakauheni totalnya berjumlah 72 orang, dibagi 3 eksekutif dan reguler. 

 Selama menggeluti profesi ini dirinya pergi dari rumah pukul 07.00 WIB hingga sore. 

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra) 

Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved